(Peringatan untuk teman-teman :
posting ini bersifat selfie dan rohani)
Papa dan mama saya bukan orang yang senang cari nama
Akibatnya, saya dinamai oleh pendeta dari gereja ,
dan adik saya, Michael, dinamai oleh Oom saya.
Suami saya juga sama, tidak senang cari nama.
Jadi ketiga anak kami, semuanya saya yang kasih nama.
Untung mereka bukan Adam (manusia pertama)
yang ditugaskan memberi nama
kepada semua binatang di Taman Eden.
Bisa garing mereka, kalo harus cari nama.
Lain dengan saya, saya senang sekali cari nama.
Saya sendiri tidak terlalu ngeh dengan arti nama saya.
Pokoknya yah, nama saya Tirsa,
dengar-dengar adalah nama sebuah kota di Alkitab.
Sampai sekitar lima tahun yang lalu
saya ketemu dengan seorang pendeta
yang juga punya anak yang bernama Tirzah,
lain ejaannya tapi artinya sama.
" Oh kamu namanya Tirsa ? Sama dengan nama anak saya.
Tirsa itu artinya : she is my delight."
Saya mesem mesem saja.
Lalu pada hari senin minggu lalu,
terjadilah sesuatu yang di luar kebiasaan saya.
Hati saya terdorong untuk membaca Psalm( Mazmur ) 157.
Pas saya buka Alkitab, ternyata Mazmur yang paling akhir itu 150,
jadi tidak ada 157. Yah sudah, saya baca saja yang dekat, 147 .
Sampailah saya pada Psalm147 :11
The Lord delights in those who fear him,
who put their hope in his unfailing love
Beginilah pikiran saya ...
The Lord delights.. hmmm... delights
itu kan arti nama saya " she is my delight "...
The Lord delights in those who fear him,
who put their hope in his unfailing love
artinya jika saya takut Tuhan dan saya berharap pada kasih setianya...
Maka saya akan menjadi delight-nya Tuhan, kesenangan-Nya Beliau
Takut Tuhan bagaimana yah ?
Yah.. berarti takut sama Tuhan bukan dengan yang lain
Terus terang, saya ini orangnya gampang takut
Takut sakit, takut nama saya tercemar, takut menolak
takut penolakan.. banyak yang saya takuti
Namun jika saya takut sama Tuhan..
yang lain-lain itu saya tidak takut lagi..
Enak dong...asoy deh
lalu masuk ke ciri kedua dari kesukaannya Tuhan
yaitu : who put their hope in his unfailing love
Kalau soal berharap, saya sadar bahwa sering saya berharap kepada
yang lain-lain, yang bukan Tuhan..
misalnya berharap kepada diri sendiri, berharap kepada orang tua,
kepada teman, kepada gereja, kepada uang, kepada suami
Pemikiran seperti itu kan gawat...
jika saya hanya berharap kepada suami,
bisa-bisa suami itu jadi Tuhannya saya
Tapi juga bukan berarti lalu saya mau mandiri
lepas dari suami... kalau begitu kan berarti
saya berharap kepada diri sendiri
( menuhankan diri sendiri... )
Yah.. pokoknya sejak membaca Mazmur 147 itu
saya jadi bertekad untuk betul betul takut Tuhan
dan berharap sama Tuhan..
saya jadi bertekad untuk menyediakan waktu khusus
untuk berdoa dan baca Firman
saya juga bertekad untuk melibatkan Tuhan dalam kegiatan saya
misalnya: sebelum masak, berdoa di dalam hati
Tuhan Yesus, tolong yah supaya masakan saya enak dan bergizi
atau sebelum mengajar sekolah minggu , berdoa juga bertanya:
Tuhan , saya harus ajar apa yah anak-anak pada hari minggu ini
atau jika saya punya pikiran buruk
Tuhan , tolong dong, kok pikiran saya jelek sekali
eh malah ada sesuatu di dalam hati yang berkata
"Kamu mau Saya temani ?"
" Mau ..mau banget !" jawab saya dalam hati
Saya beriman itu adalah suara Roh Kudus
yang menjawab permintaan saya
seperti kata John 14:26
"But the helper the Holy Spirit, whom the Father will send in my name,
he will teach you all things and bring to your remembrance
all that I have said to you,"
Sudah masuk minggu kedua ,
di mana saya menyediakan waktu buat Tuhan dalam hidup saya.
Hidup rasanya indah sekali.
Saya merasakan bagaimana menjadi kesukaannya Tuhan..
Asoyyyyy !
ditulis oleh Tirsa yang artinya sejak minggu kemaren bertekad menjadi :
The Lord's Delight ... tapi bukan Turkish Delight ( kue kering ala Turki ).
Monday, November 17, 2014
Tuesday, October 21, 2014
Voluntir dan Mata yang Berwarna Warni
Hari hari ini, saya menyempatkan diri untuk voluntir di kelasnya Sophie.
Maunya sih, seminggu sekali, tapi dijadwalkan dua minggu sekali,
mungkin biar orang tua murid yang lain dapat kesempatan.
Di Amerika, guru akan senang sekali jika dibantu.
Mulai dari voluntir ketika anak makan siang,
bantu foto copy material pelajaran, jadi panitia jika sekolah mengadakan perayaan, bantu jualan ini itu untuk cari dana buat sekolah, dll.
Saya bantu gurunya Sophie untuk mengawasi anak-anak
ketika sedang bikinPS ( pekerjaan sekolah ).
Anak anak TK kan masih perlu dibimbing.
Dengan demikian, saya jadinya kenal dengan
teman sekelas Sophie yang lucu-lucu.
Anak-anak kan polos, walaupun ada yang reseh atau bandel,
mereka tidak pasang topeng.
Kadang ada yang saking polosnya, jadi membuka rahasia keluarga.
Contohnya suatu kali, ada temannya Sophie yang tanya sama saya
" Are you Sophie's mom ?"
"Yes. Sophie looks like me, doesn't she ?"
Anak itu menganggukan kepalanya. Saya balik bertanya.
" Do you look like your dad ?"
" Yes, but my Dad does not live with me and my mom.
My Mom is not happy with him. So he moved out,"
Saya jadi salah tingkah sendiri, bingung mau komentar apa
sama omongan anak ini.
Teman sekelas Sophie kebanyakan bule.
Ada dua orang yang Afro-amerika, satu orang India,
dua orang Latino, dan satu orang Iran.
Selain menikmati tingkah polah anak kecil yang polos dan lucu,
saya juga senang mengamati mata anak-anak itu.
Matanya berwarna warni.
Beruntung yah , yang ditakdirkan lahir dari ras Kaukasia...
Teman-teman Sophie ada yang warna matanya
biru cerah, biru abu-abu, coklat muda ( hazel),
hijau, hijau abu-abu dan coklat tua.
Teman kuliah saya, Camelia Effendy pernah bilang
enak sekali cewek bule yg matanya biru atau hijau atau coklat .
Tidak perlu pake eye shadow tebal-tebal,
pakai maskara sedikit saja mata sudah pop up.
Saya mengamati mata temannya Sophie
tanpa ada perasaan aneh atau janggal .
Pernah sekali, saya mengamati mata seseorang
lalu setelah itu merasa creepy sendiri.
Kejadiannya di rumah sakit.
Waktu itu saya baru melahirkan Sophie. Baru sehari.
Eddy tidak nginap di rumah sakit.
( Kalau anak ketiga, sudah tidak terlalu manja ),
karena ada Dani dan Tim yang perlu ditunggui di rumah.
Sebelumnya saya dijenguk oleh beberapa teman Indonesia.
Lalu setelah mereka pulang, suasana kamar saya pun jadi sepi lagi.
Baby Sophie sedang tidur di sebelah saya.
Lalu pintu kamar diketuk oleh dokter.
" Hello, this is Dr M., may I come in ?"
" Sure," jawab saya
Dokter M masuk. Di klinik OB/GYN saya,
hanya dia satu-satu dokter lelaki, yang lain semuanya dokter perempuan.
Dokter M lalu bertanya bagaimana kabar saya.
Apakah saya masih kesakitan, dll...
Pertanyaan-pertanyaan tentang kondisi saya yang wajar
ditanyakan oleh seorang dokter.
Kebetulan Dokter M waktu itu berdiri di bawah lampu,
dan sambil terus ngomong, saya tiba-tiba perhatikan matanya dia.
Di bawah sinar lampu kamar rumah sakit yang temaran,
terlihat mata Dr M berwarna biru terang.
Saya jadi terpana sendiri dan tuli terhadap apa yang dia bicarakan.
Lalu dia salaman, dan minta diri,
meneruskan tugasnya untuk menengok pasien-pasien yang lain.
Meninggalkan saya yang masih tersihir dengan mata birunya.
Beberapa saat kemudian , saya sadar kembali.
OMG, apakah saya ngelaba ? Mungkin saja.
Tapi kemungkinan besar itu karena perubahan hormon,
baru melahirkan ( menghibur diri sendiri ).
Hari ini sehabis mengamati dan
menikmati mata anak-anak di kelasnya Sophie,
saya bertanya tanya sendiri...
Is it a big deal ? Why am I so concerned about eyes ?
Namun kemudian teringat sebuah cerita pendek karya Ahmad Tohari
yang berjudul "Mata yang Enak Dipandang "
Juga sebuah program TV populer di Jakarta "Mata Najwa ".
Well, I think I'm not the only one.
Maunya sih, seminggu sekali, tapi dijadwalkan dua minggu sekali,
mungkin biar orang tua murid yang lain dapat kesempatan.
Di Amerika, guru akan senang sekali jika dibantu.
Mulai dari voluntir ketika anak makan siang,
bantu foto copy material pelajaran, jadi panitia jika sekolah mengadakan perayaan, bantu jualan ini itu untuk cari dana buat sekolah, dll.
Saya bantu gurunya Sophie untuk mengawasi anak-anak
ketika sedang bikinPS ( pekerjaan sekolah ).
Anak anak TK kan masih perlu dibimbing.
![]() |
| setelah selesai , anak-anak biasanya menggambar di belakang kertas PS mereka Ini gambarnya Sophie |
teman sekelas Sophie yang lucu-lucu.
Anak-anak kan polos, walaupun ada yang reseh atau bandel,
mereka tidak pasang topeng.
Kadang ada yang saking polosnya, jadi membuka rahasia keluarga.
Contohnya suatu kali, ada temannya Sophie yang tanya sama saya
" Are you Sophie's mom ?"
"Yes. Sophie looks like me, doesn't she ?"
Anak itu menganggukan kepalanya. Saya balik bertanya.
" Do you look like your dad ?"
" Yes, but my Dad does not live with me and my mom.
My Mom is not happy with him. So he moved out,"
Saya jadi salah tingkah sendiri, bingung mau komentar apa
sama omongan anak ini.
Teman sekelas Sophie kebanyakan bule.
Ada dua orang yang Afro-amerika, satu orang India,
dua orang Latino, dan satu orang Iran.
Selain menikmati tingkah polah anak kecil yang polos dan lucu,
saya juga senang mengamati mata anak-anak itu.
Matanya berwarna warni.
![]() |
| dark brown, almond shaped eyes |
Teman-teman Sophie ada yang warna matanya
biru cerah, biru abu-abu, coklat muda ( hazel),
hijau, hijau abu-abu dan coklat tua.
Teman kuliah saya, Camelia Effendy pernah bilang
enak sekali cewek bule yg matanya biru atau hijau atau coklat .
Tidak perlu pake eye shadow tebal-tebal,
pakai maskara sedikit saja mata sudah pop up.
Saya mengamati mata temannya Sophie
tanpa ada perasaan aneh atau janggal .
Pernah sekali, saya mengamati mata seseorang
lalu setelah itu merasa creepy sendiri.
Kejadiannya di rumah sakit.
Waktu itu saya baru melahirkan Sophie. Baru sehari.
Eddy tidak nginap di rumah sakit.
( Kalau anak ketiga, sudah tidak terlalu manja ),
karena ada Dani dan Tim yang perlu ditunggui di rumah.
Sebelumnya saya dijenguk oleh beberapa teman Indonesia.
Lalu setelah mereka pulang, suasana kamar saya pun jadi sepi lagi.
Baby Sophie sedang tidur di sebelah saya.
Lalu pintu kamar diketuk oleh dokter.
" Hello, this is Dr M., may I come in ?"
" Sure," jawab saya
Dokter M masuk. Di klinik OB/GYN saya,
hanya dia satu-satu dokter lelaki, yang lain semuanya dokter perempuan.
Dokter M lalu bertanya bagaimana kabar saya.
Apakah saya masih kesakitan, dll...
Pertanyaan-pertanyaan tentang kondisi saya yang wajar
ditanyakan oleh seorang dokter.
Kebetulan Dokter M waktu itu berdiri di bawah lampu,
dan sambil terus ngomong, saya tiba-tiba perhatikan matanya dia.
Di bawah sinar lampu kamar rumah sakit yang temaran,
terlihat mata Dr M berwarna biru terang.
Saya jadi terpana sendiri dan tuli terhadap apa yang dia bicarakan.
Lalu dia salaman, dan minta diri,
meneruskan tugasnya untuk menengok pasien-pasien yang lain.
Meninggalkan saya yang masih tersihir dengan mata birunya.
Beberapa saat kemudian , saya sadar kembali.
OMG, apakah saya ngelaba ? Mungkin saja.
Tapi kemungkinan besar itu karena perubahan hormon,
baru melahirkan ( menghibur diri sendiri ).
Hari ini sehabis mengamati dan
menikmati mata anak-anak di kelasnya Sophie,
saya bertanya tanya sendiri...
Is it a big deal ? Why am I so concerned about eyes ?
Namun kemudian teringat sebuah cerita pendek karya Ahmad Tohari
yang berjudul "Mata yang Enak Dipandang "
Juga sebuah program TV populer di Jakarta "Mata Najwa ".
Well, I think I'm not the only one.
Thursday, October 16, 2014
Daun Warna Warni Musim Gugur dan Ubah Rencana
Waktu saya belajar bahasa Cina dulu,
pas jaman kuda gigit besi,
ada satu kata yang muncul di text book
yaitu Hongye yang kalau diterjemahkan secara harfiah adalah daun merah
![]() |
| daun warna warni musim gugur yang sudah gugur |
Setelah tinggal di mid-west, barulah saya mengalami hongye tersebut
Ketika musim gugur datang ( september-november )
pohon yang daunnya hijau akan berubah warna
Tidak hanya merah, ( hongye )
melainkan oranye, kuning mustard, burgundy, coklat
![]() |
| cuaca yang agak mendung pas jalan pagi |
Cuaca pun mulai dingin,
Langit yang tadinya biru cerah mulai menjadi abu-abu kelam
Di toko pun mulai dijual apple cider ( juice apel ),
yang bisa kita minum hangat atau dingin
Juga tibalah musimnya untuk petik apel di apple orchard
atau petik labu di pumpkin patch
Saat musim gugur, rasa yang populer adalah
rasa apple dan labu yang biasanya ada
kombinasi rasa kayu manis dan cengkeh
Jadi kita bisa beli pumpkin pie donut
atau spiced apple caramel latte
atau spiced pumpkin latte
Baju-baju katun musim panas disimpan
![]() |
| (bukan iklan produk DD) tomat yang tidak kunjung matang dari kebun suami |
Cardigan, jaket, syal, boots, dan topi mulai dipakai
Musim gugur adalah musim favorit saya
Pagi ini , saya dan dua orang teman jalan kaki
untuk menikmati daun warna warni musim gugur
Lumayan juga kita jalan 2 mile lebih
Seger rasanya...pake acara selfie dan foto pemandangan
![]() |
| But first, let us take a selfie |
Setelah itu kita kembali kepada kesibukan masing-masing
Saya ada janji eye check-up
Tapi pas datang ke optik,
mereka bilang dokternya tidak datang
karena ada pasien yang membatalkan appointmentnya
Mereka pikir saya membatalkan
Saya bilang, saya tidak telepon
Lho bagaimana sih ?
( saya mendongkol dalam hati )
Mereka nggak enak hati dan minta maaf
Rencana kedua untuk bikin bakso ayam juga gagal
Karena butcher di toko langganan kehabisan ayam cincang
Yah akhirnya saya beli ayam potong saja
( agak dongkol lagi )
Tapi Puji Tuhan tidak marah dan tidak kesel
Mungkin karena paginya sudah olahraga
dan menikmati daun warna warni musim gugur
Mungkin juga karena dilindungi oleh Yang Mahakuasa
diberikan kesabaran supaya tidak cepat ngambek
![]() |
| si tengah bantu sapu daun gugur |
![]() |
| si bungsu juga.. nah kalo begini kan mamanya happy dan tidak gampang ngambek |
Kalau bisa setiap hari maunya begitu
tambah sabar dan tambah enjoy
Thursday, October 9, 2014
Piano Baru Ibu Tatiani Sejati
![]() |
| Suatu hari kelak, Ibu Sejati berharap Nathan menjadi pianis di gereja |
“Where do you want the piano, ma’am? “
Dua orang dari moving company menggotong piano upright
ke dalam ruang tamu Ibu Sejati. Sedikit kekuatiran muncul di dalam hati . Mampukah
mereka menggotong piano yang berat ini ? Kalau tidak hati-hati jadi tergores atau bahkan jatuh. Ibu Sejati
kemudian ingat bahwa moving company
ini memiliki asuransi. Andaikan terjadi hal yang tidak diinginkan , ia bisa
mendapatkan ganti kerugian. Sekitar dua puluh menit kemudian, Ibu Sejati
menarik napas lega. Klaim asuransi tidak diperlukan karena proses penggotongan
piano berjalan dengan mulus. Puji Tuhan
“Please sign on the over here “
Ibu Sejati menanda tangani kuitansi
pembayaran . Ia pun memberikan selembar cek kepada tukang angkat barang itu.
“Thank you very much for your help!”
“You’re
welcome, have a good day,”
Kedua orang itu pergi, meninggalkan
Ibu Tatiani Sejati dengan piano barunya. Hati Ibu Sejati melonjak melihat pojok
rumah di dekat jendela yang tidak kosong lagi. Benda yang sangat didambakannya sejak remaja berdiri di sana.
Ia teringat
akan impian masa remajanya. Tatiani senang musik. Ia senang bernyanyi. Tanpa
disuruh, ia mengajukan diri untuk ikut paduan suara remaja di gerejanya.
Suaranya yang agak rendah, membuat dia masuk bagian alto. Tatiani merasa bahagia ketika suara tiap individu
berbaur menjadi satu dan terjadi kerharmonisan antara sopran, mezzo sopran dan alto
. Setelah hampir setahun menjadi anggota koor , perhatian Tatiani mulai terpusat
kepada piano. Asyik yah jika bisa main
piano. Tambahan lagi yang menjadi pianis dalam koor remaja adalah Kak Michael.
Selain jago berpiano, ia pun enak dipandang . Mulailah timbul keinginan besar
dalam hati Tatiani untuk belajar piano.
Tatiani
remaja sadar bahwa kondisi keluarganya tidak memungkinkan untuk membeli sebuah
piano atau membiayai kursus piano. Gaji ayahnya tidak cukup untuk hal ekstra
semacam itu. Keadaan rumah mereka pun tidak mendukung keberadaan piano. Mereka
tinggal di daerah yang agak rendah dan rawan banjir. Setiap tahun,ketika musim
hujan , pasti dua atau tiga kali , air banjir merembes masuk ke dalam rumah
mereka. Masa sih piano dibiarkan kebanjiran. Tatiani tidak berani memberitahukan impiannya kepada
orang tuanya. Ia tidak tega merepotkan kedua orang tuanya.
Puji
Tuhan , impian masa remajanya bisa terwujud sekarang. Dalam Tuhan tidak ada
yang mustahil. Ibu Tatiani Sejati bersyukur karena keluarga Sejati mampu
membeli dan membiayai kursus piano untuk kedua anak mereka. Ibu Tatiani Sejati
bertekad menyediakan sarana dan prasarana untuk pendidikan musik anak-anaknya.
Dalam benaknya, ia melihat Nathan atau Nadine Sejati memainkan piano mengiringi
pujian dan penyembahan di gereja. All the
glory for the Lord.
“Nathan, Nadine, you
will have piano lesson tomorrow after school!” kata Ibu Tatiani dengan
gembira
“What? No way, I don’t
like piano,” jawab Nathan
“Learning piano is
good for your brain. And I hope one day you will play piano in the church,”
“Can I play drum
instead?”
“Let’s make a deal, if
you learn piano for a year, then I will think about the drum,”
“Ok!”
“Mom, can you gave me
a candy after each lesson?” Nadine kecil bertanya
“Nadine, junk food is
not allowed in this house!”
Nadine cemberut mendengar jawaban Ibu Sejati.
“But I will give you a
present every time you learn a new song,”
“Yeay!” Nadine
bersorak
Ibu Tatiani Sejati tidak sabar menunggu datangnya hari esok.
Ia sangat bahagia bisa mengantar anak-anaknya les piano. Biarlah anak-anaknya
menghidupi impian masa mudanya dahulu. Sungguh beruntung mereka. Puji Tuhan.
***
Setelah beberapa
bulan kursus piano, Nathan dan Nadine mulai ngomel.
Nathan bilang ia bosan belajar piano. Nadine juga kurang suka piano. Ia lebih
suka menggambar . Namun Ibu Tatiani tidak menyerah. Ia mendorong anak-anaknya
untuk tetap berlatih piano.
“Come on Nathan, the
piano is waiting for you. Remember what Mrs. Majesky said, thirty minutes a day,”
“Mom, let me finish
this game first,” jawab Nathan, asyik memainkan WII-nya.
Ibu Tatiani mulai mendidih. Dasar anak tidak tahu diuntung.
Haruskah ia ngomel terus menerus? Ia
merebut WII remote controller dari
tangan Nathan.
“Practice ! Now!”
Nathan cemberut. Namun ia menurut. Ia beranjak menuju piano.
“You don’t have to be
so mean, Mom,” kata Nadine
“Shhh. After him, it’s
gonna be your turn!” jawab Ibu Sejati dengan judes.
Nathan mulai latihannya. Dari ruang TV, Ibu Sejati
mengerutkan kening karena ia mendeteksi kesalahan pada lagu yang dimainkan
Nathan. Ia pun masuk ke ruang tamu dan berdiri di belakang Nathan,
memperhatikan partitur lagu yang dimainkan. Walaupun tidak menguasai not balok,
Ibu Sejati mengerti bahwa Nathan salah menghitung ketukan lagunya.
“Nathan …it’s wrong !
See, you suppose to do it like this,”
Ibu Tatiani menepukkan tangannya untuk mendemonstrasikan
ketukan yang tepat.
“Mom, I can do it !”
Ibu Tatiani diam. Ia membiarkan Nathan mencoba sendiri,
namun lagi-lagi Nathan salah.
“It’s still wrong,
Nathan. Listen it’s supposed to be like this…clap… clap …clap…one two three …one
two three,”
Nathan mendengarkan. Lalu ia mencoba memainkan seperti yang
diajarkan Ibu Tatiani.
“There you go…Wait… Wrong
again…Wrong again…Today you should practice for one hour, because it’s still
not perfect,”
Nathan mulai berurai air mata.
“Why does it have to be perfect? ”
“Of course it has to,”
“Mrs. Majesky said it was okay,”
“Nathan, let me get
the laptop and see how they played it in Youtube, then you’ll understand what I
mean,”
“I hate piano!”
Nathan membanting bukunya lalu lari ke kamar,”
Ibu Sejati menghela napas. Dalam hati ia berteriak minta
tolong kepada Tuhan. Ekstra kesabaran untuk menahan tangannya menampar pipi
Nathan yang tidak tahu diuntung.Ia mengetuk pintu kamar Nathan.
“Nathan!”
“Go away!”
“One day you will
thank me for this. It’s my job to make you learn the piano! “
Ibu Tatiani sejati mengusap butiran keringat di dahinya. Ia
balik menuju piano. Nadine sudah duduk dengan manis dan membuka buku pianonya.
Pintar anak ini. Dia tidak mau mencari gara-gara dengan ibunya yang baru sewot.
![]() |
| Semoga Nadine jago piano seperti gadis manis ini |
“Let’s go, kids. It’s
almost six. Put on your shoes! “ujar Ibu Tatiani Sejati sambil mengambil
tas dan kunci mobilnya. “ Nadine, come
on! Nathan. Where are you? Hurry up Nathan. We’re gonna be late!”
Nadine ngacir
pergi ke garasi. Nathan jalan pelan-pelan dengan muka cemberut.
“Hurry up Nathan! And
do you forget something?”
Nathan mengangkat bahunya dengan muka yang masih cemberut.
“Your piano books! Go
get them now! Hurry up. We’re almost late!”
“Piano sucks!”
gumam Nathan
“What did you say,
Nathan?”
“Nothing!” Nathan berlari ke garasi .
Duh Tuhan. Betapa beratnya
tugas menjadi ibu. Ibu Tatiani Sejati teringat pada mamanya . Mamanya tidak
pernah bertengkar dengan anak untuk urusan kursus. Mana ada budget untuk kursus
. Andaikata anaknya mengerti hidup yang pas-pasan seperti dirinya dulu .Mereka
tidak sadar betapa beruntungnya mereka .
Ibu Tatiani Sejati naik ke mobilnya. Ia menyalakan mesin ,
memencet remote untuk membuka pintu garasi. Mobil minivan keluarga Sejati berjalan menuju rumah Mrs. Majesky, sang guru
piano.
Jam sepuluh malam, lampu-lampu di kamar tidur atas sudah dimatikan.
Nathan dan Nadine sudah berpindah ke alam mimpi . Lantai bawah masih
berantakan. Dapur terlihat seperti kapal pecah, dengan buku, alat tulis,
piring-piring makanan tertumpuk di atas meja. Panci dan penggorengan masih nangkring di dalam tempat cuci piring.
Bulan-bulan lalu, jam sepuluh malam, biasanya semua sudah rapih. Ibu Tatiani
merasa capek sekali. Ia tidak punya tenaga untuk membersihkan dapur. Ia ambruk
di sofa dan memejamkan matanya.
“Honey, mau nonton
DVD Saving Mr. Bank ? Review-nya bagus tuh,”
“Nggak ah, capek, Dad . Mau istirahat sebentar dulu. Pegel nih badan,”
Pak Sejati yang pendiam namun baik hati menghampiri istrinya
yang loyo di sofa. Ia mulai memijati pundak istrinya.
“Capek kenapa sih ? Kalo capek, nggak usah masak lain kali. Beli take out aja,”
“Kan kita ada peraturan no
junk food allowed in this house,”
“Nggak usah bikin peraturan yang berat berat lha…,” jawab
Pak Sejati
“ Masak sih nggak masalah..aku capek hati saja ..akhir akhir
ini, kok si Nathan nakal banget yah. Susah dikontrol. Dia nggak mau belajar
piano,”
“Yah namanya anak kecil,”
“Tapi kan, belaajr piano baik buat dia. Kalo dia jago piano nanti,
bisa melayani Tuhan di gereja, bisa cari duit dengan ngelesin piano,”
“Dia tuh tidak
sadar betapa beruntungnya dia… Kalau saya dulu hidup seperti dia… “
“Kamu tuh bukan dia, honey.
Dia juga bukan kamu,” potong Pak Sejati dengan lembut namun penuh kepastian.
Ibu Tatiani Sejati terdiam. Pundaknya yang pegal menikmati
pijatan tangan suaminya yang hangat. Hatinya yang keruh merenungi kata-kata
suaminya yang dalam.Kamu bukan dia. Dia juga bukan kamu
Betul juga perkataan Pak Sejati. Nathan adalah anak yang
dititipkan Tuhan dalam hidup Ibu Sejati. Namun Nathan bukan milik pribadinya.
Nathan punya kehendak pribadi yang harus dihormati. Dalam hal piano yang
sebetulnya adalah hobi, mungkin kehendak Nathan harus dituruti.
“Kalo kursus pianonya dihentikan, kan sayang. Kita sudah
mahal-mahal beli piano,” ujar Ibu Tatiani “Ah kalau saja piano ini bisa di-teleport ke jaman saya muda dulu. Dulu
saya ingin sekali belajar piano,”
Hmmmm ibu Tatiani tertegun mendengar kata-katanya sendiri.
Tidak mungkin men-teleport piano ke
jaman dahulu . Namun sangat memungkinkan kalau ia belajar piano sekarang.
Sebagai ibu rumah tangga , waktunya lumayan fleksible.
Kenapa tidak.
“Kalau ganti saya saja yang belajar piano, bagaimana Dad?”
“Boleh saja . Budget buat Nathan kan bisa dialihkan untuk
kamu,”
“Tapi malu kan udah bangkotan
gini…”
“Ah, tidak pernah ada kata bangkotan kalau mau belajar sesuatu,” jawab Pak Sejati
dengan postitif.
Ibu Tatiani tersenyum. Ia bangkit dari sofa dan mengecup
pipi suaminya.
“Udah cukup pijatnya?” Tanya Pak Sejati
“Thanks… aku mau
email Mrs. Majesky deh… Ganti Nathan, aku aja yang kursus piano,”
Ibu Sejati pun beranjak ke meja kerja dan membuka laptopnya.
Sambil senyum senyum sendiri, ia mulai menulis email kepada guru piano
anak-anaknya. Pak Sejati menyalakan TV.
Ia hendak menonton serial Person of
Interest. Nathan dan Nadine tertidur lelap di kamar mereka. Sementara itu,
di langit musim gugur kota Toronto, bulan bersinar lembut . Sinarnya yang
temaran menerangi Keluarga Sejati, tanpa mereka sadari.
( Terimakasih untuk Juliani Soegandhi yang meminjamkan foto-fotonya )
( Terimakasih untuk Juliani Soegandhi yang meminjamkan foto-fotonya )
Thursday, October 2, 2014
Kisah Seram dari Restoran
Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke restoran take out teman saya.
Restoran mungil ini, jika siang hari, hanya ditangani oleh teman saya
( yang melayani tamu ) dan suaminya ( yang memasak makanan).
Saya duduk di kursi, sementara teman saya yang lincah
mondar mandir terima telepon, ambil makanan ke dapur,
melayani tamu yang bayar.
Teman ini memang "high energy".
Dia mampu melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan .
Pada waktu senggang ketika tamu atau telepon tidak datang,
dia ngobrol dengan saya .
Begitu tamu datang, dia cabut lagi, begitu tamu cabut , dia ngobrol lagi .
Dia begini terus without losing her head.
Hebat teman saya yang satu ini.
Saya pun mengamati tamu-tamunya.
Ada yang berkulit hitam, ada yang putih.
Ada yang pekerja kantor atau pekerja kasar.
Tapi tidak ada yang orang Asia.
Seru juga neh, kata saya dalam hati.
Rame. Baguslah...banyak rejeki buat teman saya.
Kemudian datanglah seorang ibu dengan dua orang anak perempuannya.
" No school today ?" tanya teman saya kepada ibu itu
(karena waktu itu adalah jam sekolah )
" They are home schooled," jawab ibu itu
" Oh, what a great mom you are," puji teman saya
Dalam hati saya juga memuji ibu tersebut.
Homeschooling itu bikin kerjaan ekstra buat ibu rumah tangga
( No homeschooling for me, hehehehe ).
Setelah membayar dan mengambil pesanannya,
si ibu beserta dua orang anak perempuannya keluar dari resto teman saya.
Begitu tamunya pergi, teman saya langsung heboh.
"Hei , kamu lihat kan ibu itu..Dia kelihatannya manis kan ?"
Saya menganggukan kepala. Mulailah teman saya bercerita.
Si ibu itu dulu sempat sering ke resto teman saya.
Ia juga sering kelihatan di kompleks pertokoan
di mana resto teman saya berada.
Itu berlangsung selama kurang lebih setahun.
Namun , kemudian teman saya tidak pernah melihat ibu itu lagi.
Dan pada suatu malam, ketika teman saya sedang menonton televisi acara kriminal.. terpampanglah foto si ibu itu.
Ibu itu diseret ke pengadilan,
karena mencampur obat tetes mata suaminya dengan cairan pembersih. Akibatnya mata suaminya menjadi rusak.
Ketika suaminya pergi ke rumah sakit dan memeriksa matanya,
pihak rumah sakit langsung menelepon polisi.
Dan kemudian kisah mereka jadi rame.
Rupanya ibu itu mau balas dendam karena suaminya berselingkuh.
Saya pun teringat kisah kriminal yang saya baca minggu lalu, tentang seorang pacar gelap yang meracuni kekasihnya karena kekasihnya mau balik kepada istrinya. Akibat diracuni, sang lelaki jadi mengalami kerusakan ginjal.
Mereka berdua adalah dokter oncologist dari rumah sakit terkenal di Amerika.
Haduhhhhh....!
Saya jadi ingat teman yang lain. Ia cerai lalu menikah dengan suami kedua. Perceraiannya dengan suami pertama disebabkan karena eks-nya kecanduan berselingkuh. Saya telepon dia.
" Eh, elu apa nggak kepikiran mau kasih racun sama eks elu ?" tanya saya
" Nggak. Gue takut . Kalo gue sampe masuk penjara, kan anak anak jadi jatuh ke tangan dia. Tapi buat balas dendam , gue retail therapy, dan dugem," jawabnya.
Saya juga membahas masalah ini dengan teman yang lain.
" Kalau suami elu selingkuh, gimana ? Elu mau racunin dia nggak ?"
" Kalo gue , gue potong barangnya ," jawab teman saya yang lain.
Haduhhhhh....!
Saya terbelalak, karena teman saya yang ini orangnya sangat manis,
tapi ternyata dia bisa sadis .
Buat saya sendiri, saya nggak akan berani potong..
tapi racun adalah pilihan yang menarik untuk balas dendam
( I am an Agatha Christie's fan after all ).
Saya berdoa supaya saya dan suami dijauhkan dari masalah pelik semacam ini.
Tapi dalam pernikahan, doa saja tidak cukup. Ada perjuangan batin dan fisik untuk menjaga kesetiaan. Misalnya, tidak bergenit-genit dengan lawan jenis . Istilah Inggrisnya "no flirting" . Tidak membuka celah. Setelah menikah, tidak etis untuk berduaan dengan lawan jenis. Kalau memang harus bertemu dengan lelaki lain, kan bisa bawa teman atau keluarga ( bertiga lebih baik daripada berduaan).
Banyak orang yang terjebak, karena ingin pengalaman yang meledak-ledak.
Ini memang masalah yang agak pelik dan sensitif.
Biasanya kalau sudah menikah agak lama, ledakannya kurang.
Namun saya meyakini, selalu ada pertolongan yang sah
( dari berbagai pihak , termasuk pihak Yang Mahakuasa )
Bisa pergi ke dokter, bisa konsultasi ke psikolog atau makan obat.
Atau berdoa saja kepada yang Kuasa.
Saya pikirYang Kuasa mampu memberikan ledakan baru
demi keutuhan keluarga.
Asal kita beriman dan mau menjaga hati nurani yang bersih.
Kalau memang sudah tidak tahan,
mungkin lebih baik bungee jumping di Bali.
Pakai saja semua tabungan untuk mendapatkan pengalaman yang meledak.
Lebih baik duit habis daripada rumah tangga berantakan.
Karena pada akhirnya, jika memang malapetaka ini terjadi,
siapa yang jadi korban...?
Anak-anak.
Anak-anak yang manis dan polos, yang dititipkan kepada orang tua.
Kalau sudah soal anak.. yah...
lebih baik batu kilangan ditaruh di leher ,
lalu lari ke kali Ciliwung
daripada membuat hidup anak sendiri menjadi rusak.
Restoran mungil ini, jika siang hari, hanya ditangani oleh teman saya
( yang melayani tamu ) dan suaminya ( yang memasak makanan).
Saya duduk di kursi, sementara teman saya yang lincah
mondar mandir terima telepon, ambil makanan ke dapur,
melayani tamu yang bayar.
Teman ini memang "high energy".
Dia mampu melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan .
Pada waktu senggang ketika tamu atau telepon tidak datang,
dia ngobrol dengan saya .
Begitu tamu datang, dia cabut lagi, begitu tamu cabut , dia ngobrol lagi .
Dia begini terus without losing her head.
Hebat teman saya yang satu ini.
Saya pun mengamati tamu-tamunya.
Ada yang berkulit hitam, ada yang putih.
Ada yang pekerja kantor atau pekerja kasar.
Tapi tidak ada yang orang Asia.
Seru juga neh, kata saya dalam hati.
Rame. Baguslah...banyak rejeki buat teman saya.
Kemudian datanglah seorang ibu dengan dua orang anak perempuannya.
" No school today ?" tanya teman saya kepada ibu itu
(karena waktu itu adalah jam sekolah )
" They are home schooled," jawab ibu itu
" Oh, what a great mom you are," puji teman saya
Dalam hati saya juga memuji ibu tersebut.
Homeschooling itu bikin kerjaan ekstra buat ibu rumah tangga
( No homeschooling for me, hehehehe ).
Setelah membayar dan mengambil pesanannya,
si ibu beserta dua orang anak perempuannya keluar dari resto teman saya.
Begitu tamunya pergi, teman saya langsung heboh.
"Hei , kamu lihat kan ibu itu..Dia kelihatannya manis kan ?"
Saya menganggukan kepala. Mulailah teman saya bercerita.
Si ibu itu dulu sempat sering ke resto teman saya.
Ia juga sering kelihatan di kompleks pertokoan
di mana resto teman saya berada.
Itu berlangsung selama kurang lebih setahun.
Namun , kemudian teman saya tidak pernah melihat ibu itu lagi.
Dan pada suatu malam, ketika teman saya sedang menonton televisi acara kriminal.. terpampanglah foto si ibu itu.
Ibu itu diseret ke pengadilan,
karena mencampur obat tetes mata suaminya dengan cairan pembersih. Akibatnya mata suaminya menjadi rusak.
Ketika suaminya pergi ke rumah sakit dan memeriksa matanya,
pihak rumah sakit langsung menelepon polisi.
Dan kemudian kisah mereka jadi rame.
Rupanya ibu itu mau balas dendam karena suaminya berselingkuh.
Saya pun teringat kisah kriminal yang saya baca minggu lalu, tentang seorang pacar gelap yang meracuni kekasihnya karena kekasihnya mau balik kepada istrinya. Akibat diracuni, sang lelaki jadi mengalami kerusakan ginjal.
Mereka berdua adalah dokter oncologist dari rumah sakit terkenal di Amerika.
Haduhhhhh....!
Saya jadi ingat teman yang lain. Ia cerai lalu menikah dengan suami kedua. Perceraiannya dengan suami pertama disebabkan karena eks-nya kecanduan berselingkuh. Saya telepon dia.
" Eh, elu apa nggak kepikiran mau kasih racun sama eks elu ?" tanya saya
" Nggak. Gue takut . Kalo gue sampe masuk penjara, kan anak anak jadi jatuh ke tangan dia. Tapi buat balas dendam , gue retail therapy, dan dugem," jawabnya.
Saya juga membahas masalah ini dengan teman yang lain.
" Kalau suami elu selingkuh, gimana ? Elu mau racunin dia nggak ?"
" Kalo gue , gue potong barangnya ," jawab teman saya yang lain.
Haduhhhhh....!
Saya terbelalak, karena teman saya yang ini orangnya sangat manis,
tapi ternyata dia bisa sadis .
Buat saya sendiri, saya nggak akan berani potong..
tapi racun adalah pilihan yang menarik untuk balas dendam
( I am an Agatha Christie's fan after all ).
Saya berdoa supaya saya dan suami dijauhkan dari masalah pelik semacam ini.
Tapi dalam pernikahan, doa saja tidak cukup. Ada perjuangan batin dan fisik untuk menjaga kesetiaan. Misalnya, tidak bergenit-genit dengan lawan jenis . Istilah Inggrisnya "no flirting" . Tidak membuka celah. Setelah menikah, tidak etis untuk berduaan dengan lawan jenis. Kalau memang harus bertemu dengan lelaki lain, kan bisa bawa teman atau keluarga ( bertiga lebih baik daripada berduaan).
Banyak orang yang terjebak, karena ingin pengalaman yang meledak-ledak.
Ini memang masalah yang agak pelik dan sensitif.
Biasanya kalau sudah menikah agak lama, ledakannya kurang.
Namun saya meyakini, selalu ada pertolongan yang sah
( dari berbagai pihak , termasuk pihak Yang Mahakuasa )
Bisa pergi ke dokter, bisa konsultasi ke psikolog atau makan obat.
Atau berdoa saja kepada yang Kuasa.
Saya pikirYang Kuasa mampu memberikan ledakan baru
demi keutuhan keluarga.
Asal kita beriman dan mau menjaga hati nurani yang bersih.
Kalau memang sudah tidak tahan,
mungkin lebih baik bungee jumping di Bali.
Pakai saja semua tabungan untuk mendapatkan pengalaman yang meledak.
Lebih baik duit habis daripada rumah tangga berantakan.
Karena pada akhirnya, jika memang malapetaka ini terjadi,
siapa yang jadi korban...?
Anak-anak.
Anak-anak yang manis dan polos, yang dititipkan kepada orang tua.
Kalau sudah soal anak.. yah...
lebih baik batu kilangan ditaruh di leher ,
lalu lari ke kali Ciliwung
daripada membuat hidup anak sendiri menjadi rusak.
Tuesday, September 30, 2014
TENTANG HADIAH
Alkisah, pada jaman dahulu kala, ketika dunia ini baru
selesai dijadikan,
Sang Pencipta mulai membentuk manusia
untuk dijadikan
penghuni kompleks dunia baru.
Karena Sang Pencipta ini sungguh sangat baik , kreatif dan
personal,
Ia memberikan banyak hadiah kepada manusia ciptaanNya.
Hadiahnya
bukanlah sesuatu yang umum seperti emas, perak atau permata. Bukan…Hadiahnya
ialah kepingan kepingan dari citra diriNya
( kembali…Sang Pencipta itu sangat
personal )
Kepada yang satu, Ia berikan kemampuan untuk menasehati.
Buat yang lain Ia berikan keinginan untuk memberi.
Yang itu diberikan
kepandaian untuk mengajar.
Yang ini dikasih kecermatan untuk mengevaluasi.
Di saat usia saya sudah setengah baya ini, saya mulai
“ngeh”dengan hadiah-hadiah yang Sang Pencipta berikan kepada manusia-manusia di
sekitar saya.
Contohnya, sebuah sepasang suami istri yang menjadi sahabat
kami di sini, diberikan kepingan citra-Nya untuk menjamu orang lain. Nah agak
aneh kan…Tapi memang aneh tapi nyata. Sang istri yang cantik, kalau mengadakan
pesta, selalu menjadi tuan rumah yang menyenangkan. Ia akan melihat kebutuhan
tamu-tamunya. Kalau ada si tamu kekurangan makanan atau minuman akan segera
dilayani. Kalau si tamu kesepian akan diajak ngobrol atau dikenalkan dengan
teman lain yang jago ngobrol. Sang istri juga pintar mendekorasi ruangan untuk
pesta. Dan dekorasi yang ia ciptakan itu , sangat sederhana namun keren
boo!...Istilah inggrisnya effortlessly
chic . Sementara itu suaminya diberikan kemampuan untuk masak . Bahkan suatu
kali, suaminya sampai bakar steak di halaman saat hujan turun, seorang tamu
mendampingi dia sambil menaungi dia dengan payung. Tidak semua orang sampai bela-belain mau menjamu tamu seperti
itu. Sepertinya di lingkaran pertemanan kami, hanya pasangan tersebut yang
segila itu .
Seorang ibu di sini diberi kemampuan untuk ngomelin orang.
Dia sangat peka dalam
mendeteksi ke-palsuan dan kemurnian seseorang.
Akal sehat ibu tersebut juga
berfungsi dengan sangat baik.
Dengan orang-orang yang dekat , dia akan menegur
orang tersebut.
Dengan orang –orang yang tidak terlalu dekat,
dia akan tutup
mulut, mungkin nyindir sesekali.
Sebagai orang yang dekat dengan dia, saya beruntung
karena
saya pernah di-omeli.
Mata saya jadi terbuka melihat kebenaran
yang tidak
terdeteksi oleh saya sebelumnya.
Kalau dipikir, agak beresiko juga dapat hadiah
ngomel seperti ini,
karena kalau orangnya tidak suka diomelin, bisa marah.
Teman yang lain diberi kegemaran untuk masak.
Anehnya ,kalau masak, dia tidak bisa memasak dalam porsi kecil,
tapi porsinya
gila-gilaan. Lalu teman-teman di sekelilingnya akan diberikan makanan. Sempat
ketika saya sedang kurang enak badan, kebetulan diberikan 2 kontainer makanan
dan satu panci sup.
Saya tidak masak dan tidak take out hari itu.
Sup-nya bikin
badan saya enak lagi.
Ada juga satu orang ibu di sini yang pintar performing art.
Kalau ada dia, suasana
jadi cair, karena dia pandai menirukan orang lain.
Dia juga jago main lenong.
Sebagai pemain, dia adalah pemain yang baik.
Patuh dengan sutradara, latihan dijalankan
dengan baik, naskah dihapal,
nggak macem-macem. Sebagai sutradara lenong jadian
tiap natalan
( huh, mungkin ini hadiah dari Pencipta buat saya ),
saya enak deh
kalau ada dia, karena saya tahu she will
deliver .
Hadiah dari Sang Pencipta ini, diberikan kepada manusia
supaya manusia bisa melayani sesamanya yang membutuhkan.
Kalau yang diberikan
hadiah ini egois,
ia akan mati-matian memerah hadiahnya
supaya menguntungkan
dirinya sendiri.
Sebagai contohnya saya sendiri kadang menggunakan
kemampuan
menulis atau berimajinasi
untuk mendapatkan pujian dari orang lain.
Saya sempat
ditegur secara tidak langsung oleh teman penulis lain
dalam post Impian yang
Mulia ),
untuk mengganti haluan dalam motivasi.
Hebatnya hadiah hadiah yang diberikan oleh Sang Pencipta
ini,
tidak terbeli dengan uang atau emas dan permata.
Kadang berupa telinga
yang mau mendengarkan.
Tepukan di punggung untuk memotivasi orang lain,
atau
tangan dingin untuk menumbuhkan tanaman (hadiah illahi untuk papa),
atau keinginan supaya keluarga nyaman ( hadiah illahi untuk suami saya ),
dan
banyak hal lainnya.
Semua manusia yang pernah hidup atau sedang hidup ,
mendapatkan hadiah ini.
Perlu diingat kembali bahwa Sang Pencipta Maha Besar.. .
dengan demikian kepingan kepingan citra diriNya
juga sangat ngeajubillahhh banyaknya.
Saya rindu kalau kita semua sadar
atau mau mencari hadiah
yang terkubur dalam diri kita,
serta membagikannya kepada mereka yang
membutuhkan.
Friday, September 26, 2014
IMPIAN YANG MULIA
Pertemuan dengan teman-teman kreatif di dunia virtual
membuat saya rendah hati.
Masih banyak sekali yang saya perlu pelajari.
Masih banyak yang perlu dicoba dan dipraktekkan
Makin banyak ketangguhan mental dan hati
yang harus dibina untuk bisa berkarya.
Beberapa hari yang lalu saya sempat chatting dengan
Wurry Parluten yang berada di Palembang.
Dia menulis naskah serial si Bolang ( Bocah Petualang )
Anda bisa nonton serial si Bolang di youtube
Saya tanya dengan Wurry, kalau bisa membuat film
tanpa memikirkan biaya,
( karena semua kebutuhan keluarga sudah terpenuhi )
Film seperti apakah yang Wurry ingin buat ?
Dan jawaban Wurry, bikin saya tersentak
Misalkan Mbak Tirsa Produsernya, saya mo bikin film mengikuti usia anak kita.
Usia anak saya dan anak Mbak Tirsa kan kayaknya masih di bawah 13 tahun.
Jadi fokus ke cerita model begitu. Nanti kalo mereka remaja, kita bikin film remaja.
Begitu kuliah, kita bikin film kuliah. Begituuu terus sampe bosen bikin film.
Saya mau angkat topi dan acungkan jempol buat Wurry
Dia punya impian yang mulia
Sebelumnya, kalau saya berkreatifitas, sebagian besar tujuan pribadi saya
ialah menyenangkan diri sendiri ( narsisitik )
menyenangkan orang lain (ingin dipuji, ingin mendapatkan uang )
Hampir tidak pernah saya memikirkan anak saya sendiri
untuk menjadi target audience dari karya saya
Kalau melihat situasi dan kondisi saya sekarang
Rasanya tidak mungkin menjadi produser untuk membuat film
Saya tidak mampu secara finansial,
juga belum mengerti seluk beluk film production
Namun dalam hidup ini, sering terjadi hal-hal yang luar biasa, bukan
Siapa tahu ?
Biarlah Sang Pemberi Impian menolong hidup Bung Wurry dan keluarganya
Namun saya betul betul tergugah oleh impian Wurry ini..
Sudah dua hari ini, saya mencoba berpikir tentang tulisan buat anak-anak saya
Dan inilah hasilnya...
Saya menyusun buku handmade untuk Sophie
dengan gambar dan cerita dari Sophie, saya hanya menuliskan,
karena dia belum bisa menulis
Saya menulis satu halaman untuk Timmy
tentang seorang "picky eater"
Tapi dia malah tersinggung dengan tulisan saya,
dan menyembunyikan kertas itu
Saya bikin buku handmade kecil buat Dani...
yang berjudul "Diary of a Porcupine Haired Boy "
( karena rambut dia kaku seperti landak )
Saya pikir, saya akan mengadopsi cita-cita Wurry
untuk diterapkan dalam hidup saya sendiri.
Bikin film kan susah dan muahaaalll..
tapi sekarang ini saya bisa bikin buku-bukuan.
jadi itulah yang saya buat...
Subscribe to:
Posts (Atom)










