Tuesday, September 30, 2014

TENTANG HADIAH

Alkisah, pada jaman dahulu kala, ketika dunia ini baru selesai dijadikan, 
Sang Pencipta mulai membentuk manusia 
untuk dijadikan penghuni kompleks dunia baru.
Karena Sang Pencipta ini sungguh sangat baik , kreatif dan personal, 
Ia memberikan banyak hadiah kepada manusia ciptaanNya. 
Hadiahnya bukanlah sesuatu yang umum seperti emas, perak atau permata. Bukan…Hadiahnya ialah kepingan kepingan dari citra diriNya 
( kembali…Sang Pencipta itu sangat personal )

Kepada yang satu, Ia berikan kemampuan untuk menasehati. 
Buat yang lain Ia berikan keinginan untuk memberi. 
Yang itu diberikan kepandaian untuk mengajar. 
Yang ini dikasih kecermatan untuk mengevaluasi.

Di saat usia saya sudah setengah baya ini, saya mulai “ngeh”dengan hadiah-hadiah yang Sang Pencipta berikan kepada manusia-manusia di sekitar saya.
Contohnya, sebuah sepasang suami istri yang menjadi sahabat kami di sini, diberikan kepingan citra-Nya untuk menjamu orang lain. Nah agak aneh kan…Tapi memang aneh tapi nyata. Sang istri yang cantik, kalau mengadakan pesta, selalu menjadi tuan rumah yang menyenangkan. Ia akan melihat kebutuhan tamu-tamunya. Kalau ada si tamu kekurangan makanan atau minuman akan segera dilayani. Kalau si tamu kesepian akan diajak ngobrol atau dikenalkan dengan teman lain yang jago ngobrol. Sang istri juga pintar mendekorasi ruangan untuk pesta. Dan dekorasi yang ia ciptakan itu , sangat sederhana namun keren boo!...Istilah inggrisnya effortlessly chic . Sementara itu suaminya diberikan kemampuan untuk masak . Bahkan suatu kali, suaminya sampai bakar steak di halaman saat hujan turun, seorang tamu mendampingi dia sambil menaungi dia dengan payung. Tidak semua orang sampai bela-belain mau menjamu tamu seperti itu. Sepertinya di lingkaran pertemanan kami, hanya pasangan tersebut yang segila itu .

Seorang ibu di sini diberi kemampuan untuk ngomelin orang. 
Dia sangat peka dalam mendeteksi ke-palsuan dan kemurnian seseorang. 
Akal sehat ibu tersebut juga berfungsi dengan sangat baik. 
Dengan orang-orang yang dekat , dia akan menegur orang tersebut. 
Dengan orang –orang yang tidak terlalu dekat, 
dia akan tutup mulut, mungkin nyindir sesekali.

Sebagai orang yang dekat dengan dia, saya beruntung 
karena saya pernah di-omeli. 
Mata saya jadi terbuka melihat kebenaran 
yang tidak terdeteksi oleh saya sebelumnya. 
Kalau dipikir, agak beresiko juga dapat hadiah ngomel seperti ini, 
karena kalau orangnya tidak suka diomelin, bisa marah.

Teman yang lain diberi kegemaran untuk masak. 
Anehnya ,kalau masak, dia tidak bisa memasak dalam porsi kecil, 
tapi porsinya gila-gilaan. Lalu teman-teman di sekelilingnya akan diberikan makanan. Sempat ketika saya sedang kurang enak badan, kebetulan diberikan 2 kontainer makanan dan satu panci sup. 
Saya tidak masak dan tidak take out hari itu. 
Sup-nya bikin badan saya enak lagi.

Ada juga satu orang ibu di sini yang pintar performing art
Kalau ada dia, suasana jadi cair, karena dia pandai menirukan orang lain.
Dia juga jago main lenong. Sebagai pemain, dia adalah pemain yang baik. 
Patuh dengan sutradara, latihan dijalankan dengan baik, naskah dihapal, 
nggak macem-macem. Sebagai sutradara lenong jadian tiap natalan 
( huh, mungkin ini hadiah dari Pencipta buat saya ), 
saya enak deh kalau ada dia, karena saya tahu she will deliver .

Hadiah dari Sang Pencipta ini, diberikan kepada manusia 
supaya manusia bisa melayani sesamanya yang membutuhkan. 
Kalau yang diberikan hadiah ini egois, 
ia akan mati-matian memerah hadiahnya 
supaya menguntungkan dirinya sendiri. 
Sebagai contohnya saya sendiri kadang menggunakan 
kemampuan menulis atau berimajinasi 
untuk mendapatkan pujian dari orang lain. 
Saya sempat ditegur secara tidak langsung oleh teman penulis lain 
 dalam post Impian yang Mulia ), 
untuk mengganti haluan dalam motivasi.

Hebatnya hadiah hadiah yang diberikan oleh Sang Pencipta ini, 
tidak terbeli dengan uang atau emas dan permata. 
Kadang berupa telinga yang mau mendengarkan. 
Tepukan di punggung untuk memotivasi orang lain, 
atau tangan dingin untuk menumbuhkan tanaman (hadiah illahi untuk papa), 
atau keinginan supaya keluarga nyaman ( hadiah illahi untuk suami saya ), 
dan banyak hal lainnya. 

Semua manusia yang pernah hidup atau sedang hidup , 
mendapatkan hadiah ini. 
Perlu diingat kembali bahwa Sang Pencipta Maha Besar.. . 
dengan demikian kepingan kepingan citra diriNya 
juga sangat ngeajubillahhh banyaknya.


Saya rindu kalau kita semua sadar 
atau mau mencari hadiah yang terkubur dalam diri kita, 
serta membagikannya kepada mereka yang membutuhkan. 

Friday, September 26, 2014

IMPIAN YANG MULIA

Pertemuan dengan teman-teman kreatif di dunia virtual
membuat saya rendah hati.
Masih banyak sekali yang saya perlu pelajari. 
Masih banyak yang perlu dicoba dan dipraktekkan
Makin banyak ketangguhan mental dan hati 
yang harus dibina untuk bisa berkarya.

Beberapa hari yang lalu saya sempat chatting dengan
Wurry Parluten yang berada di Palembang. 
Dia menulis naskah serial si Bolang ( Bocah Petualang )
Anda bisa nonton serial si Bolang di youtube

Saya tanya dengan Wurry, kalau bisa membuat film
tanpa memikirkan biaya,
( karena semua kebutuhan keluarga sudah terpenuhi )
Film seperti apakah yang Wurry ingin buat ?

Dan jawaban Wurry, bikin saya tersentak
Misalkan Mbak Tirsa Produsernya, saya mo bikin film mengikuti usia anak kita.
Usia anak saya dan anak Mbak Tirsa kan kayaknya masih di bawah 13 tahun. 
Jadi fokus ke cerita model begitu. Nanti kalo mereka remaja, kita bikin film remaja. 
Begitu kuliah, kita bikin film kuliah. Begituuu terus sampe bosen bikin film.

Saya mau angkat topi dan acungkan jempol buat Wurry
Dia punya impian yang mulia

Sebelumnya, kalau saya berkreatifitas, sebagian besar tujuan pribadi saya
ialah menyenangkan diri sendiri ( narsisitik )
menyenangkan orang lain (ingin dipuji, ingin mendapatkan uang )
Hampir tidak pernah saya memikirkan anak saya sendiri 
untuk menjadi target audience dari karya saya

Kalau melihat situasi dan kondisi saya sekarang
Rasanya tidak mungkin menjadi produser untuk membuat film
Saya tidak mampu secara finansial, 
juga belum mengerti seluk beluk film production
Namun dalam hidup ini, sering terjadi hal-hal yang luar biasa, bukan
Siapa tahu ?
Biarlah Sang Pemberi Impian menolong hidup Bung Wurry dan keluarganya


Namun saya betul betul tergugah oleh impian Wurry ini..
Sudah dua hari ini, saya mencoba berpikir tentang tulisan buat anak-anak saya
Dan inilah hasilnya...

Saya menyusun buku handmade untuk Sophie
dengan gambar dan cerita dari Sophie, saya hanya menuliskan, 
karena dia belum bisa menulis

Saya menulis satu halaman untuk Timmy 
tentang seorang "picky eater"
Tapi dia malah tersinggung dengan tulisan saya, 
dan menyembunyikan kertas itu

Saya bikin buku handmade kecil buat Dani...
yang berjudul "Diary of a Porcupine Haired Boy " 
( karena rambut dia kaku seperti landak )

Saya pikir, saya akan mengadopsi cita-cita Wurry 
untuk diterapkan dalam hidup saya sendiri. 
Bikin film kan susah dan muahaaalll.. 
tapi sekarang ini saya bisa bikin buku-bukuan.
jadi itulah yang saya buat...


 

Sunday, September 21, 2014

Tentang Menulis

Entah kenapa akhir akhir ini saya bertemu dengan teman teman penulis di dunia virtual. Salah satunya adalah Cindy Kristanto. Cindy ini, teman lama di Chicago. Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu,hampir tiap minggu kami dan beberapa ibu rumah tangga lainnya ketemu untuk main bareng dan berdoa. Saya sering ngobrol tentang buku-buku favorit kami waktu kami kecil dulu. Kami sama-sama gemar buku karya Enid Blyton dan Astrid Lindgren.

Cindy sudah terlebih dahulu aktif menulis blog. Dua tahun belakangan ini dia aktif menerjemahkan novel fiksi. Jika teman-teman membaca buku terbitan Gramedia, dan buku tersebut adalah buku terjemahan, mungkin saja anda menemukan nama Cindy sebagai pengalih- bahasanya.

Seorang sahabat di Michigan memperkenalkan saya dengan keponakannya, Lewi Satriani. Lewi ini penulis komik horror di Indonesia. Anda bisa membaca karyanya di DBKomik.com serial Jerit Malam.

Saya jadi sering chatting dengan Cindy dan Lewi . Dengan Cindy, tentunya saya banyak kesamaan. Jadi kami sering chatting urusan anak, dapur, suami dan rumah tangga. Ketika saya berkesempatan untuk menerjemahkan sebuah buku, kami jadi sering chatting soal arti kata. Kadang kami saling menyemangati satu sama lain. Beberapa kali kami sempat berangan-angan untuk duduk berdua di cafe atau perpustakaan dengan membawa laptop dan kopi, lalu sama-sama sibuk menulis sendiri-sendiri. Betapa indahnya kerja sendiri tapi bersama, dan menjadi cheerleader jika yang satu sedang suntuk.

Beberapa kali chatting dengan Lewi , saya sedikit ngiri, karena Lewi menjalankan hidup yang sempat saya impikan sewaktu single dulu. Asyik sekali bisa menulis komik secara rutin. Senang sekali rasanya bisa melihat ide sendiri dijelmakan menjadi gambar dan digabung dengan text. Enak banget ikutan acara talk show, di mana pembaca penasaran bertemu dengan pengarang.

Karena Lewi adalah penulis horror, kami membahas karya karya Stephen King. Beberapa tahun yang lalu saya sempat gandrung dengan Stephen King. The Green Mile dan Shawshank Redemption menurut saya adalah film klasik yang patut ditonton berulang kali. Namun saya lebih menyukai karya Stephen King yang tidak terlalu menyeramkan seperti Stand By Me atau The Girl who Loved Tom Gordon. Sedangkan "On Writing " memoir-nya Stephen King, menurut saya adalah buku wajib untuk orang-orang yang belajar menulis.  

Buat saya sendiri, menulis adalah suatu hobi yang dimulai sejak kecil. Ketika SD dulu, saya sering menggambar dan ngoceh ngalor ngidul sendirian. Saya juga gemar membuat tulisan lalu menempelkan sticker yang gambarnya kira-kira cocok dengan tulisan saya. Dan sampai sekarang, saya happy kalau melihat sticker. Beberapa kali saya sembunyikan sticker-sticker milik Sophie.( For future use )

Ketika remaja di gereja, saya berjumpa dengan Cacuk Wibisono, orang yang menjadi mentor saya dalam penulisan dan kreatifitas. Saya tidak belajar tentang teknis dari dia. Dia menjadi pendengar yang baik, pendorong dan pembuka jalan buat saya.

Masa SMA adalah masa yang lumayan produktif dalam berlatih menulis, karena saya menjadi seksi tabloid dan majalah dinding. Saya latihan menulis cerpen, puisi, renungan, humor dalam masa-masa ini. Glory Wadrianto, teman seksi majalah dinding, sekarang ini menjadi wartawan di Kompas online.

Selain itu, saya juga ikutan drama di gereja, di mana saya ditantang untuk memahami karakter orang lain lewat akting. Saya juga belajar menulis naskah dan menyutradarai, semuanya otodidak dan disemangati oleh mentor saya, Cacuk.

Kehidupan kreatif saya agak vakum ketika kuliah. Saya sibuk dengan belajar dan main di kampus. Namun menjelang akhir perkuliahan, saya sadar bahwa saya tidak akan bisa bergerak bebas dalam bahasa yang saya pelajari, yaitu bahasa Cina. Bahasa Cina dalah bahasa yang sangat efektif dan efisien, serta indah dan sarat makna. Namun...sangat sulit. Jadilah saya bertekad akan terjun ke bidang kreatif yang menggunakan bahasa Indonesia. Saya pun kepingin menjadi copywriter alias tukang bikin iklan. Alasan lain ialah, saya kepengen kerja di mana saya bisa berpakaian casual tanpa menggunakan sepatu hak tinggi.

Saya ambil beberapa mata kuliah tentang periklanan di kampus tetangga (FISIP). Saya pun kenalan dengan teman teman baru di FISIP. Beberapa tahu kemudian, seorang teman yang saya dapat di FISIP, Jeffry, memperkenalkan saya kepada teman SMA-nya Eddy. Akhirnya malah saya dan Eddy nikah.

Balik kepada penulisan...saya bertekad menjadi copywriter, tapi pintu tidak terbuka ke dunia iklan sama sekali. Setelah lulus, saya sempat mengajar ekskul mandarin di SD dan SMP Karunia. Namun setelah enam bulan, saya berhenti karena saya dapat panggilan untuk kerja sebagai scriptwriter di Asiana Wang Animation.

Asiana Wang Animation atau AWA, adalah perusahaan animasi Indonesia yang bekerja sama dengan Wang Animation dari Taiwan. Waktu itu tempatnya di Desa Cibatu, Cikarang. Tempatnya sangat terpencil. Di sekitarnya banyak sawah. Sore-sore , sekitar jam 5, kawanan sapi akan lewat. Saya direkrut karena AWA ingin membuat film animasi Indonesia.

Animasi adalah proyek yang sangat mahal. Jarang sekali pihak yang mau menanam modal untuk membuat film animasi. Sebagai penulis yang masih hijau, saya pun kurang paham dengan tuntutan yang diberikan di pundak saya. Namun saya ketemu, seorang teman yang kemudian menjadi mentor dalam sikap profesional kreatifitas. Teman ini sekarang menjadi figur yang beken di Indonesia, yaitu Bambang Gunawan, alias Mas Be, atau Bambi , pangilan akrabnya.

Sangat menyenangkan bekerja sama dengan Bambi. Dia selalu ceria , gemar menolong serta profesional. Saya belajar dari Bambi bahwa deadline itu penting. Jangan sampai lewat dari deadline, begitu pesan Bambi.  Bambi juga sangat pandai untuk memimpin dan berkolaborasi dalam satu tim. Dengan kehadiran Bambi, suasana kreatif akan terbina . Waktu itu, Bambi juga menjadi teman berbincang tentang musical show. Akhir tahun 90-an itu, musical show belum terlalu muncul di Indonesia, tapi Bambi sudah tahu banyak. Dan siapa lagi teman nonton video atau nyanyi bareng lagu-lagi Andrew Llyoid Webber , kalau bukan Bambi. Kami dan beberapa teman lain, nonton musikal pertama di Indonesia, Opera Anoman. Sayangnya waktu itu belom live show, masih pakai recording. Mungkin di masa depan, Indonesia bisa memproduksi live drama musical.

Saya hanya bertahan di AWA selama 9 bulan. Lalu saya pindah ke rumah produksi Cahaya Bagi Negeri . Cacuk lah yang memperkenalkan saya kepada pihak manajemen. Di sini saya pertamanya direkrut untuk membuat program children show. Namun kemudian tidak berlanjut, dan saya dipindahkan ke program SOLUSI, program testimony tentang perubahan kehidupan. Saya belajar membuat segmen selama 7 menit. Saya juga berlajar trick untuk me-riset, mewawancara, lalu menyusun kembali wawancara yang tadinya panjang ( sekitar 45 menit ) menjadi 7 menit. Tidak lupa menambahi pengadeganan. Biasanya SOLUSI tayang jaman dulu di SCTV saat tengah malam. Saya kerja di SOLUSI selama 2 tahun. Saya berhenti, menikah, lalu diboyong suami ke USA.

Sempat saya mengalami culture shock dan krisis identitas di USA. Namun berkat pertolongan Tuhan, saya dipulihkan. Selama 4 tahun saya tidak menulis, lalu setelah di Michigan, mulai pelan-pelan saya kembali menulis. Saya diminta untuk membuat naskah drama natal di gereja Indonesia.

Dan akhirnya...saya mulai blogging.. Blogging itu enak, karena saya jadi bos sendiri. Cerita seenak-enak saya, tidak ada deadline, tidak ada tema. Tentu tidak dapat gaji, tapi sebagai ibu rumah tangga saya tidak berkewajiban mencari uang. Kewajiban saya sekarang memelihara anak dan merawat rumah. Dan kembali saya ingat pesan Bambi..untuk tetap profesional dan tidak lewat deadline. Deadline saya sekarang ini ialah... seterikaan baju suami sudah harus beres, makan malam harus sudah siap, anak musti diantar kursus . Dan di-tengah-tengah deadline rumah tangga, saya menyempatkan waktu untuk berpikir dan menulis untuk blog, untuk tabloid gereja, untuk proyek di masa depan. Puji Tuhan semuanya bisa berjalan. Lancar atau tidak...yah tidak apa-apa. Yang penting bisa berjalan.
 

Wednesday, September 10, 2014

Suatu Hari dalam Kehidupan Ibu Tatiani Sejati

Ibu Tatiana Sejati adalah figur yang dikenal di komunitas Indonesia di Ann Arbor. Nama Ibu Tatiana Sejati adalah identik dengan pertolongan karena ia baik hati, ringan tangan dan gemar menolong.

Ketika Ibu Maria sakit keras, hampir setiap hari Ibu Sejati mengirimkan makanan sehat homemade ke rumahnya. Tidak hanya sehat, masakan Ibu Tatiana Sejati juga sungguh lezat, walaupun tidak menggunakan MGS. Setelah seminggu, berkat bantuan doa, pengobatan dokter, dan menu makanan sehat, Puji Tuhan Ibu Maria sembuh dari sakitnya.

“Puji Tuhan sudah sehat yah!” kata Ibu Sejati ketika bertemu dengan Ibu Maria di supermarket.

“Amin!” jawab Ibu Maria. “Terimakasih atas bantuan Ibu Sejati, mengirimkan makanan waktu saya sakit,”

Ibu Sejati tersenyum mendengar perkataan Ibu Maria. Namun senyumnya tidak bertahan lama, karena kemudian matanya melotot melihat shopping cart Ibu Maria yang isinya beraneka ragam chips, cookies, soda, ice cream dan permen.
makanan semacam ini BERBAHAYA
Mana sayur? Mana buah?

“Ini untuk anak anak saya,” kata Ibu Maria dengan malu-malu. Ia sadar dengan raut wajah Ibu Sejati yang menunjukkan kekecewaan. “Sampai ketemu di gereja minggu depan yah,”

Dengan perasaan malu Ibu Maria menuju ke kasir, dan dengan perasaan sedih Ibu Sejati meneruskan acara belanjanya. Ia membeli buah, sayur, organic skim milk, organic plain fat free yogurt, kacang-kacangan, organic tofu dan tempeh. Dalam hati ia merasa percuma saja mengirimkan makanan sehat homade selama seminggu berturut-turut. Ibu Maria tidak mau bertobat dari gaya makannya yang sia-sia.

Sampai di rumah, Ibu Sejati dikagetkan oleh voice mail dari Ibu Una. Ibu Una minta dibantu menjemput anaknya dari day care. Ibu Una sedang ada meeting, suaminya sedang di luar kota. Namun anak mereka yang berusia 4 tahun tiba-tiba demam tinggi. Sambil menari napas panjang, Ibu Sejati berpikir sejenak. Bantu atau tidak yah? Sebetulnya ia ingin mendengarkan kotbah Pastor Joseph Sumirgo minggu lalu.Karena ia ditugaskan oleh Daniel Wagiman untuk mengajar sekolah minggu, ia tidak sempat mendengar kotbah. Namun kemudian ia ingat ayat Alkitab yang mengatakan jangan jemu-jemu untuk berbuat baik. Akhirnya ia bertekad untuk membantu Ibu Una.

“Thanks for helping me. I owe you one,” kata Ibu Una di telepon. 

Ibu Sejati sumringah mendengar ucapan Ibu Una. Namun ketika ia menjemput anak Ibu Una di day-care, sumringahnya berganti dengan perasaan prihatin. Ashley, anak Ibu Una yang cantik, terlihat pucat pasi. Suhu tubuhnya tinggi. Udara sudah mulai dingin pada bulan Oktober di Ann Arbor. Namun Ashley hanya memakai sweatshirt yang tipis. Kakinya hanya memakai running shoes tanpa kaus kaki. Tidak heran kalau dia demam. Aduh,ibu macam apa Ibu Una.Karir maju, anak terlantar.

Ibu Sejati memberikan segelas susu hangat (organic tentunya) dan sepiring oatmeal raisin cookies (homemade from scratch) kepada Ashley.

Ashley tidak suka cookies bikinan Ibu Sejati
padahal lebih sehat daripada oreo
“Thank you,” kata Ashley dengan sopan. Ia minum susu namun cookies-nya tidak disentuh.

“You are not hungry, sweetie? You don’t want cookies? ” Tanya Ibu Sejati

“I don’t like the raisins,” kata Ashley kecil. “Do you have Oreos?”

“Sorry, I don’t have junk food in my home,” jawab Ibu Sejati

Ashley nonton acara TV anak-anak. Ia lebih memilih Dora the Explorer ketimbang Veggietales. Sayang sekali Ibu Una tidak memperkenalkan Ashley dengan Christian entertainment. Ibu Sejati tambah prihatin. Dua jam kemudian Ibu Una menjemput Ashley. Ibu Una membelikan cappuccino dari McDonalds buat Ibu Sejati, serta Happy Meals buat Ashley.

“Lagi demam, kok makan goreng-gorengan,” komentar Ibu Sejati

“Dia lagi koleksi Barbie toys dari Happy Meals,” jawab Ibu Una. “Biasanya juga yag dimakan hanya apple slices dan yogurt-nya,”

Ibu Sejati menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Namun dalam hati, ia tambah prihatin. Ia bersyukur karena anak-anaknya tidak suka makan McDonald. Bagi anak-anak keluarga Sejati, Deli sandwich adalah fast food. 

“Bye bye!” said Ashley, sambal mengunyah nuggets.

Ketika Ashley dan Ibu Una pulang, tidak ada waktu lagi untuk dengar kotbah. Ia harus menyiapkan makan malam. Menu hari ini adalah beef teriyaki (organic free range beef of course) dan tumis sayuran. Menu snack adalah homemade chocolate pudding (takaran gula dikurangi oleh Ibu Sejati) with vanilla sauce. Buat suami dan anak-anak, Ibu Sejati selalu memberikan yang terbaik.
Ibu Sejati tidak pernah menggunakan bumbu instant


Kesibukan mengurus makan malam, membantu anak membuat homework, mengantar anak ikut kursus renang, menyita waktu Ibu Sejati sampai malam. Setelah anak –anak tidur dan rumah teratur kembali, Ibu Sejati menarik napas panjang. Ia akan punya waktu satu sampai dua jam untuk check email dan mendengar kotbah Pastor Joseph Sumirgo. Biasanya ia sering menemani Pak Sejati nonton DVD, tapi kali ini, ia memilih untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Pastor Joseph berkotbah tentang pentingnya saling melayani dalam community. Ah Ibu Sejati merasa tersanjung. Ia telah melakukan apa yang dikotbahkan. Walaupun dalam gereja , ia hanya melayani di sekolah minggu, namun dalam keseharian ia melayani teman-temannya. Inilah yang disebut pelayanan yang sejati, mencerminkan namanya, Ibu Tatiani Sejati.

Setelah selesai mendengar kotbah, ibu Sejati mulai check email-nya. Ada beberapa email dari teman-temannya. Ia membuka email dari Ibu Sylvia, teman yang berhasil ia jodohkan dengan Sigit, sahabat lama Pak Sejati. Ibu Sejati tersenyum mengingat ia menjadi tamu kehormatan saat pesta pernikahan Ibu Sylvia dan Pak Sigit, karena ia menjadi mak comblang yang sukses. Yah, inilah salah satu contoh dari pelayanan sejati.

Senyum kemudian berubah menjadi ekspresi heran dan ngeri karena email Ibu Sylvia menceritakan tentang keinginannya untuk bercerai. Nikah baru satu tahun sudah bercerai?

“Dad…coba tolong telepon teman kamu Sigit!” kata Ibu Sejati dengan nada panic

“Besok aja deh! Sudah malam!”

“Sekarang aja deh, masa aku dapat email katanya Sylvia mau cerai sama Sigit!”

Pak Sejati pun kaget mendengar perkataan istrinya. Namun ketika ia menelepon Sigit, teman akrabnya, ia malah jadi kesal karena ia dimaki-maki oleh Sigit.

“Bilang sama istrimu, saya nyesal kawin dengan Sylvia!” Sigit membentak Pak Sejati di telepon. Pak Sejati yang bijaksana, tidak mau meladeni orang yang sedang marah. Apalagi ia tahu kalau Sigit frustasi. Ia hanya menutup teleponnya.

“Bagaimana, Dad?”

“Sudah ah, pusing aku. Aku mau tidur aja,” kata Pak Sejati.

Kali ini panic menyerang Ibu Sejati. Ia menelepon Sylvia. Namun yang ditelepon tidak menjawab. Ibu Sejati mulai berdoa. Ia merasa masalah separah ini harus diserahkan kepada Tuhan. Setelah tenang, ia mulai membuka emailnya lagi. Kali ini adalah email dari Ibu Una.

Dear Tatiani. Bisa tolong jaga Ashley besok? Dia masih panas. Tapi aku harus kerja. Thanks.

Sambil cemberut, Ibu Sejati menjawab emailnya. Dear Una. Sorry tidak bisa. Sudah ada janji besok. Kebangetan si Una ini. Dikasih hati minta jantung.

Email berikutnya adalah dari Pak Rinto. Bulan kemaren dia dipecat dari pekerjaannya, dan Ibu Sejati memperkenalkannya dengan Ibu Martin yang sedang mencari pegawai di restaurannya. Dalam emailnya dia bilang dia tidak suka kerja di restaurant ibu Martin. Selanjutnya isi email itu menjelek-jelekkan ibu Martin. Dia mengakhiri emailnya dengan rencana untuk menuntut Ibu Martin ke pengadilan karena dia sempat sakit gara-gara restaurant ibu Martin kurang bersih.

Tak lama kemudian, masuklah text message dari Ibu Martin.

Tatiani Sejati, kalau mau rekomendasi orang buat restaurant saya hati-hati dong. Masa saya dikasih orang brengsek macam Rinto.

Ibu Sejati makin pusing setelah membaca text yang baru masuk. Walapun ia ingin tahu detail tentang Rinto, namun ia takut menghadapi ibu Martin yang terkenal tegas. Ia pun menutup halaman emailnya dan membuka halaman facebook. Lumayan lah baca-baca facebook, kan refreshing.

Ia meng-upload-foto dinner hari ini. Teriyaki beef dan tumis sayuran. Posting tentang makanan selalu mengundang komentar positif dari teman-teman facebooknya. Ia sering mendapat thumbs up karena foto makanan yang cantik. Betul. Beberapa menit setelah ia post foto makanan, beberapa teman langsung klik “thumbs up “.

Whoa! Yummy and healthy! komentar Ibu Penina Mulyadi di wall-nya. Ibu Sejati tersenyum lebar. Sayang Ibu Lana Sumirgo tidak ikutan facebook. Kalau ikut, pasti dia juga akan klik “ thumbs up “. Dia pernah memuji masakan Ibu Sejati waktu ada potluck gereja. Dia suka salad racikan Ibu Sejati.

salad Ibu Sejati yang disukai oleh Ibu Lana Sumirgo
THUMBS UP
Beberapa menit berlalu, ia melanjutkan melihat update dari teman-temannya di facebook. Ketika ia melihat facebook account Ibu Maria, ia tertegun. Ibu Maria posting selfie-nya yang sedang menikmati hidangan iga panggang. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat komentar Ibu Maria di wall-nya celebrating my recovery!

Are you kidding? Celebrating your recovery with barbecue ribs? You just recovered from gout, you idiot! Do you want to be sick again? Ibu Sejati menarik napas  panjang. Mungkin ia harus meminta Ibu Penina Mulyadi untuk melayani Ibu Maria secara langsung. Supaya Maria makan salad bukannya makan ribs yang berlemak.


Akhirnya, Ibu Sejati log off dari facebook. Dia mematikan laptop-nya. Lalu berdoa. Ia berdoa supaya Ibu Maria bertobat dari gluttony, satu dari seven deadly sins. Biar Roh Kudus yang menegur dia. Ibu Sejati juga minta Tuhan berikan keterbebanan kepada Ibu Penina Mulyadi untuk menegur Ibu Maria dengan penuh kasih. Supaya Tuhan mengubah pola pikir Ibu Una yang lebih mengutamakan karir daripada anak. Supaya pertengkaran Rinto dan Ibu Martin bisa diselesaikan. Amin.