Tuesday, March 24, 2015

Ketakutan Seorang Ibu

Sejak menjadi seorang ibu, saya makin sering merasa waswas. Ternyata saya tidak sendirian, teman- teman yang lain pun juga demikian. Dalam sebuah grup chatting yang saya ikuti, sering anggota grup membagi berita-berita kejahatan terkini dengan tujuan supaya angota grup lebih berhati-hati .


Akhir-akhir ini yang dibahasa adalah berita tentang begal. Terus terang , saya tidak tahu apa arti kata begal. Setelah search di google, barulah saya mengerti. Begal adalah tindakan perampokan sepeda motor dengan menggunakan senjata oleh sekelompok bajingan. Pembegalan itu bahkan dilakukan di saat masih terang. Beberapa kali saya lihat foto para begal yang sudah hangus dibakar massa. Sadis sekali si begal dan juga massa yang main hakim sendiri. 

Ada juga berita berita tentang penculikan anak yang mulai marak di tanah air. Sebelumnya, saya pikir penculikan anak lebih banyak terjadi di North Amerika, namun sayangnya trend kejahatan ini seperti virus, gampang menular dan menjangkiti daerah lain.

Sementara itu, banyak berita berita miring dari luar yang membuat keluarga dan teman-teman di Indonesia menjadi was-was. Contohnya waktu Detroit bangkrut, atau terjadi penembakan di tempat tempat umum .

“Masa senjata dijual bebas,” demikian protes teman di Indonesia

“Masa polisi Indonesia diam saja,” demikian protes teman di Amerika

Setelah saya merenung, yah kejahatan ,kecelakaan dan sakit penyakit terjadi di mana –mana. Pembegalan, penculikan, pemberian narkoba dalam bentuk permen, hubungan seks bebas, ISIS, penyebaran virus seperti virus demam berdarah, flu burung, meningitis, dan banyak lagi. Saya menjadi sangat prihatin dengan keamanan anak-anak saya. Mungkin inilah yang disebut naluri keibuan, yang muncul semenjak saya punya anak.

Saya amati bahwa naluri keibuan dalam diri saya
ada dua wujudnya...

1. naluri untuk merawat anak
saya selalu ingin membuat anak nyaman
kasih makan kalo lapar, kasih selimut kalo dingin, dll

2. naluri untuk melindungi anak
naluri yang ini agak buas dan bikin ibu selalu was was dan gemetar..mengamati keadaan sekitar....demi keamanan keluarganya

Betulan saya gemetar deh... apalagi anak saya tiga !


Dalam kegentaran saya, teringat saya akan sebuah janji Tuhan di Mazmur 91.
Manusia yang bisa ingkar janji, namun janji Tuhan adalah ya dan amin.  Janji Tuhan harus diraih oleh iman supaya bisa bermanifestasi menjadi kenyataan. Demikianlah beberapa janji Tuhan yang menjadi pegangan untuk mengusir ketakutakan saya .

1. Kalau ngeri terhadap Ebola, Aids, Meningitis, demam berdaran dll, dsb... inilah janji Tuhan  dalam

Mzm 91 : 3
Sungguh Dialah yang melepaskan engkau dari jerat perangkap burung dan dari penyakit sampar yang busuk ( hello... Flu burung.. pergi kau ! )

2. Kalo gemetar membaca tentang aksi teroris atau kriminal yang melibatkan senjata dan kekerasan, silahkan simak

Mzm 91 : 5
Engkau tidak usah takut akan kedahsyatan malam , akan panah yang terbang di waktu siang. ( termasuk clurit, parang, golok, senapan, BB gun, dll )

3. Untuk ancaman mass shooting ( di negara-negara Eropa dan Amerika ) atau huru hara massa ( di Indonesia )

Mzm 91 : 7
Walau seribu orang rebah di sisimu dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu

Perlindungan itu dijanjikan kepada kita dengan sebuah syarat yang tertera di dalam Mzm 91: 14-15:
Sungguh hatinya melekat kepadaKu maka Aku akan meluputkannya.
Aku akan membentenginya sebab ia mengenal namaKu

Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa sih kok janji harus ada syaratnya. Namun setelah direnungkan, persyaratan adalah hal yang logis. Contohnya, jika kita mau mempergunakan fasilitas sebuah gym, ada syaratnya , yaitu kita harus menjadi anggota. Jika kita datang ke sebuah pesta, juga ada syaratnya, yaitu kita harus diundang atau kenal dengan orang yang mengadakan pesta.

Sebuag pertanyaan lain muncul di dalam hati saya. Apakah saya kenal secara pribadi dengan Sang Juruselamat sehingga saya akan mendapatkan fasilitas dibentengi dan diluputkan dari segala ancaman kejahatan ?

Terus terang ini adalah sebuah tempalakan besar dalam hati saya.. apakah saya betul betul kenal dengan Dia ? Sepertinya saya lebih kenal dengan teman atau pasangan saya atau pendeta daripada dengan Tuhan saya...Saya lebih sering membaca novel daripada surat cinta dari Tuhan saya ( Alkitab )... Saya lebih sering minta pendapat orang lain daripada minta pendapat kepada Tuhan saya.


Bagaimana dengan teman –teman pembaca sekalian ? 

( photos taken from the internet )

Tuesday, March 10, 2015

Obrolan Ringan

Salah satu yang hilang dalam hidup saya di US, adalah obrolan ringan dengan orang-orang yang saya jumpai di tempat umum. Kok aneh kenapa bisa hilang ? Mungkin karena saya orang yang agak introvert. Teman yang ekstrovert bisa dengan mudahnya ngobrol " small talk " sama kasir di toko, atau sesama ibu di sekolah, atau pelayan di restaurant.

Kalau dengan orang yang sudah dekat atau sudah nyaman, saya bisa ngobrol tentang hal-hal yang sangat personal. Bisa bicara tentang masa lalu, impian-impian yang hancur, kekecewaan, dll. Namun berbicara tentang hal ini pun bikin saya capai. Karena obrolan yang berat seperti itu biasanya menuntut kerahasiaan.
Menjaga rahasia seseorang atau pun diri sendiri, bukan hal yang mudah lho !

Pagi ini, saya pergi ke Asian grocery di dekat rumah. Nah, si engkoh yang punya toko orangnya baik sekali. Namun si enci , istrinya, orangnya judes. Bagusnya si enci ini kayaknya makin hari, kejudesannya makin berkurang. Mudah-mudahan begitu terus yah ! Biar pelanggan makin suka.
sagu, fish paste ( buat bikin siomay ) dan bangkuang
Saya datang ketika toko masih sepi. Tiba-tiba si enci jalan  sambil terengah-engah. Kenapa nih si enci ? saya bertanya dalam hati.
Begitu terus selama beberapa menit saya memilih -milih barang. Sepertinya si enci lagi olahraga. Aneh ah.

" Were you having an exercise ?" tanya saya ketika check out

" Oh yes," jawabnya singkat. Selalu singkat dan tidak suka small talk si enci ini, makanya kan saya bilang enci judes.

" That's a good use of time," komentar saya

Saya lalu membayar belanjaan saya . Dia ucapkan terimakasih dan " have a good day". Lumaya ramah, karena dulu-dulu, biasanya si enci cuma bilang thank you aja, tanpa melihat muka.

Di dekat grocery Asia, ada grocery Arab yang jualan daging halal. Saya beli ayam di situ. Nah butchernya sangat ramah. Kalo toko sepi biasanya dia selalu ngobrol. Penjaga kasirnya seorang gadis muda berjilbab .
ayam dan lemon
" You know, she is learning Chinese now," kata butcher itu kepada saya

" Oh really ?" jawab saya

" No, I am not learning chinese," kata si gadis itu

" What language do you learn ? Japanese ?" tanya saya

" Yes," jawabnya

Saya pun mulai berkicau dan bercerita kalau dulu waktu SMA saya belajar bahasa Jepang. Juga cerita kalau saya summer tahun lalu pergi ke Jepang. Dia hanya mendengarkan sambil tersenyum. Saya juga bilang di perpustakaan lokal banyak buku jepang. Dia bilang dia tahu. Saya berkicau selama kurang lebih 5 menit. Setelah bayar , saya pergi.

Lalu saya jadi penasaran sendiri tentang gadis itu. Dia belajar jepang di mana ? Apakah ambil kuliah di community college atau autodidak ? Sudah berapa lama dia belajar ?

Ah, nanti kalau saya beli ayam lagi, saya tanya dia.
Ah small talk... yang didominasi oleh saya. Pikir-pikir mirip juga dengan posting di blog. Pembaca kan mendengar saya berceloteh.