Thursday, March 22, 2018

PERUBAHAN KEINGINAN


kelas 2 a31 SMUK3
 Dulu waktu SMA bosan pakai seragam, 
ingin cepat-cepat kuliah biar bisa pakai baju bebas. 
Begitu sudah kuliah, eh ingin balik ke SMA, 
biar nggak pusing mikirin busana

Dulu waktu single ingin cepat nikah 
karena kayaknya orang yang nikah enak. 
Tapi begitu nikah agak iri dengan orang single 
yang masih punya banyak kebebasan.

masa hanya berdua

Dulu waktu suami istri masih berdua saja, 
ingin cepat cepat punya momongan. 
masa begadang tiap malam dengan baby Daniel
Begitu sudah dapat momongan lalu repot, 
eh jadi ingin menikmati masa-masa santai tanpa anak.

Dulu waktu tinggal di Indonesia, doyan sekali dengan 
coklat Ferrero, Lindt, Hersey, See’s, 
dan segala coklat yang diimport dari luar. 
Begitu tinggal di luar Indonesia, 
yang dicari coklat Silver Queen.

Teh Tong Tji yang disayang- sayang
Dulu waktu minum teh sore-sore, 
jika dapat teh merek Twinnings, 
Bigelow, Red Rose, Tazo rasanya seperti ketumpahan rejeki. Sekarang teh yang disayang-sayang ialah Sosro, TongTji, 
dan Kepala Djenggot.

Dulu sepertinya gaya banget kalau makan Pizza Hut, 
sekarang rasanya euphoria kalau makan ketoprak kaki lima.

Ketika musim dingin... kedinginan 
dan ingin cepat-cepat musim panas. 
Ketika musim panas kepanasan…
jadi  teringat dengan sejuknya musim dingin.

Ketika udara panas dan lembab lalu jadi keringetan, 
pengen udara dingin dan kering supaya nggak kuyu dan kumal. Tapi begitu kena udara dingin dan kering agak lama, 
kulit jadi kering ,pecah-pecah, keriput, 
lalu merindukan udara yang panas dan lembab.

Lha bagaimana dong, kalau begini terus, kan kacau jadinya. 
Tapi secara jujur itu yang terjadi pada diri saya. 
Seandainya saja saya bisa menjadi  seperti yang dikatakan oleh pepatah bijak : 
Sebenarnya, aku telah menyesuaikan diriku dan menenangkan jiwaku, seperti anak yang pisah susu dari ibunya, seperti anak yang pisah susu, jiwaku di dalam diriku.

Ya sudahlah... apa boleh buat, asal mulut ini jangan menggerutu lalu jadi patah semangat. Kemudian mengarahkan jiwa: 
hayo semangat semangat !

Tuesday, March 20, 2018

Adikku yang Telat Berkembang



Selain memiliki sifat welas asih, banyak juga kelebihan adik saya yang lainnya. Dia relax, friendly, dan tidak ambil pusing dengan komentar orang atau jika ada orang lain yang sirik sama dia. Agak-agak kayak teflon adik saya itu, sindiran atau cercaaan orang nggak nempel sama dia.

Walaupun sekarang adik saya itu ok banget, namun waktu kecil dulu, Michael adalah late bloomer dalam berbagai hal, mungkin karena dia sudah lahir sebelum genap 9 bulan yah.
Kata mama, Michael itu ngomongnya dan jalannya agak telat. Kalau saya sudah bisa jalan ketika umur 1 tahun dan sudah bisa hafal lagu-lagu operet Cinderella-nya Ira Maya Sopha ketika umur 2 tahun, Michael baru bisa jalan ketika dia hampir 2 tahun dan bicara ketika dia hampir 3 tahun. 


Dalam hal akademis, Michael juga late bloomer. Waktu TK dan SD, prestasi  Michael di sekolah hanya pas-pasan. Menurut mama, dia ada di urutan agak ke bawah, atau kalau lagi bagus di tengah-tengah. Ketika SMP, prestasinya membaik, selalu di tengah-tengah, dan ketika SMA, dia malah bagus karena sempat mendapatkan nilai NEM urutan ke-4 di sekolah kami yang lumayan terkenal dalam hal akademik.

Ketika SMA, Michael juga mulai mengembangkan hobinya dalam hal organisasi. Dia aktif berorganisasi di OSIS, gereja, antar gereja, juga di Universitas Atmajaya, almamaternya. Makanya temennya juga lebih banyak dari saya. Kalau pepatah Inggris berkata : Better late than never, dalam kasusnya Michael ialah : He's late but better ( in many areas of his life compared to many people who bloomed on time, including his sister )

Monday, March 19, 2018

ADIKKU YANG BAIK




Perkenalkan adik saya, Michael 
yang selisih umurnya hanya 11 bulan dengan saya. 

Tidak lama setelah melahirkan saya, mama hamil lagi, 
dan Michael lahir ketika ia berusia 8 bulan. 
Walaupun saya sempat ngedumel, 
karena kami selalu satu tingkat di sekolah, 
bahkan pernah dua kali sekelas, sesungguhnya saya bersyukur karena dia adalah adik yang baik. 
Dia welas asih kepada kakaknya 
yang kadang berhati preman ini 
( walaupun bertampang malaikat).

Ketika kelas 1 SD, kami diberi uang jajan seratus rupiah. 
Jaman tahun 80-an, uang itu bisa membeli : 
mie goreng/ nasi uduk/nasi goreng (50 rupiah), 
pisang goreng/tape goreng/kacang bawang(25 rupiah) 
dan sirop merah (25 rupiah). 
Jadi lumayan mengenyangkan.
Walaupun dikasih uang jajan, 
kami berdua dibekali makan siang berupa roti, 
kebetulan juga jaman itu papa masih usaha roti di rumah.
Nah biasanya walaupun dibawakan, 
saya lebih senang jajan di kantin. 
Jadi seringnya rotinya tidak dimakan.

Ketika bel pulang berbunyi dan sekolah usai, 
di luar sekolah banyak jajanan yang lebih seru daripada di kantin. Ada bakso, es doger, es batangan, bubur ayam, otak otak mini, dll. Yang paling murah dan cocok buat snack ialah otak-otak. 
Harganya 25 rupiah. Juga ada pempek  mini, yang sebetulnya hanyalah bulatan tepung sagu yang digoreng. 
Rasanya enak menurut saya dan harganya lebih miring lagi 
yaitu 25 rupiah dapat 2. 
Nah karena uang sudah saya habiskan di kantin, 
saya lalu minta uang sama Michael.

Michael jarang jajan di kantin, jadi uangnya masih utuh. 
Saya hampir setiap hari pinjam uang sama dia, 
lalu bilang nanti diganti. 
Tapi hari demi hari uangnya tidak pernah diganti 
dan saya terus menerus pinjam 
dan dia terus menerus meminjamkan. 
Hahahah, dia adalah adik yang sangat baik. 
Seingat saya kejadian ini terus berlangsung hampir selama setahun. Lalu sepertinya, saya mulai tahu diri dan tidak melakukan itu lagi. Dan uangnya Michael tidak pernah saya ganti. 
Untung dia tidak marah. Mungkin dia sudah lupa.

Wednesday, March 7, 2018

Manggung...What Would Life Be



dengan temen kuliah
Entah mengapa perjalanan hidup saya itu banyak berkaitan dengan manggung yah?
Entah main musik, nyanyi, main drama, menari, bahkan juga berkaitan dengan yang di belakang panggung, namun sepertinya sejak TK sampai sekarang, ada aja stage connection. 

lomba VG klasis
Padahal saya mah pas-pasan aja, nyanyi pas, 
nggak terlalu powerful tapi juga nggak fales
Main musik pas-pasan juga, yaitu main suling recorder, 
pernah belajar gitar, tapi nggak mahir
Main drama, walaupun suka, yah pas-pasan juga, 
akting saya nggak mencekam, juga pesona di panggung 
pun biasa aja, abis wajah flat dan tubuh pendek
Menari, ini baru belakangan, dan nari-nya juga 
yang sangat sederhana, sempat waktu di TK 
dan sekarang ini kadang menari dengan ibu-ibu gereja
Kalau yang di belakang panggung, yah berkisar antara menulis naskah, melatih dan menyutradarai, ini lumayan gemar, tapi kualitas dan skala-nya biasa aja, dan dedikasi saya pun terhadap kegiatan manggung juga biasa aja, nggak terlalu dalam. 

ensamble waktu SD

Saya manggung biasanya untuk event sekolah atau gereja. Semuanya amatir, dilakukan karena senang atau gara-gara disuruh pihak lain, dan tidak menerima bayaran. Walaupun akhirnya saya bekerja di bidang media production, mungkin juga karena sudah terlanjur gemar dengan aktifitas manggung memanggung itu. 

Kalau saya renungkan, mungkin sebetulnya setiap orang perlu diberikan kesempatan untuk manggung atau berdiri di atas platform, karena setiap orang itu adalah mahluk sosial yang unik
perlu berbagi dan mengamati. Jaman sekarang ini facebook, youtube, instagram, serta berbagai media online lainnya adalah panggung virtual untuk manusia bisa berbagi.

Manggung itu memperkaya diri sendiri dan orang lain, karena kita banyak berlatih kerja sama, kerja keras, serta kreatifitas ketika manggung. Manggung itu juga adalah kegiatan yang netral, namun semua tergantung dari manusia-nya. Kalau mau dibawa negatif , yah kegiatan manggung bisa jadi negatif, membagikan pengaruh yang tidak baik atau merugikan pihak lain, melepaskan aura negatif, melampiaskan kenegatifan. Ada contoh kejadian di mana seorang penari manggung dengan sangat memukau sehingga seorang raja mau memberikan hadiah apa saja yang diminta penari itu. Dan apakah yang diminta ? Pemacungan kepala seorang nabi. Nah itu serem kan.. 

Saya jadi teringat lagu oldies ABBA : 

Thank you for the music, the songs I'm singing
Thanks for all the joy they're bringing
Who can live without it, I ask in all honesty
What would life be?
Without a song or a dance what are we?
So I say thank you for the music
For giving it to me
 

Thursday, March 1, 2018

Dua Oma


Yang kiri adalah Oma Mendas, yang kanan adalah Oma Tunggul atau Oma yang tinggal di Jalan Bukit Tunggul. 

Oma Mendas yang nama Indonesianya ialah Maryam, orangnya ramah. Dia sangat trampil dalam urusan kepandaian putri. Masakannya enak, jahitan dan bordirannya bagus. Yang dipikirkan ialah kepentingan keluarga dan anak-anak. Untuk membantu keuangan keluarga, Oma menerima order bordir, begitu kata mama. Ia juga bikin bihun goreng yang dititipkan ke warung atau dijualkan oleh Oom Hendra, anaknya yang bungsu. Gaji suaminya, sebagai seorang penerjemah di kantor berita Antara tidak terlalu besar, namun entah gimana, Oma selalu bisa menyisihkan uang yang kemudian dibelikan perhiasan emas. Biasanya ketika anaknya lulus sekolah dan hendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Oma akan menjual perhiasan emasnya.

saya dengan Oma Mendas, ulang tahun ke-1
Saya diasuh dengan Oma Mendas ketika kecil dan banyak menghabiskan waktu di rumahnya yang waktu itu juga ditinggali oleh adik-adik mama saya, Oom Hendrik, Tante Inge yang saya panggil Iih, dan Oom Hendra. Oma selalu mengenakan kebaya encim dan kain, dengan rambut yang disanggul cepol. Malam-malam sehabis makan, Oma biasanya menghisap sebatang rokok untuk menghilangkan rasa asam di mulut, demikian katanya. Oma Mendas meninggal waktu saya kelas 2 SD.

Karena saya cucu pertama, Oma memanjakan saya. Saya tidak pernah diomelin. Namun suatu kali Oma Mendas pernah marah sekali dengan saya. Kejadiannya masih saya ingat secara samar-samar. Saya punya t-shirt favorit gambar beruang yang lagi pegang balon. Saya minta pembantu membawakan t-shirt itu dari rumah di Jalan Bukit Tunggul ke rumah Oma Mendas. Namun ternyata pembantunya membawakan t-shirt yang lain. Saya kesal dan memaki-maki pembantu. Oma Mendas menyaksikan kejadian itu. Dia marah kepada saya dan tidak mau cucunya jahat kepada pembantu. Kejadian ini berakibat cukup besar buat saya yang masih TK, karena Oma minta mama membawa masalah ini kepada kepala sekolah TK. 

Jadilah suatu hari Ibu Liana memanggil saya masuk ke kantornya. Saya tidak dimarahi, namun saya dipeluk dan dinasehati sampai saya berurai air mata. 

Tidak lama setelah Oma Mendas meninggal, ada bekas pembantu yang mendatangi rumah Mendas. Dia menangis setelah tahu Oma sudah tiada. Memperlakukan pembantu dengan baik, itulah warisan yang ditinggalkan Oma Mendas buat saya. 


Oma dari pihak papa, saya panggil Oma Tunggul karena tinggalnya di Jalan Bukit Tunggul. Nama aslinya ialah Eli Sudja. Dari kecil, keluarga saya tinggal dengan Oma Tunggul di jalan Bukit Tunggul. Namun karena waktu itu suasana di rumah sangat sibuk karena ada usaha roti, jadinya saya sering dititipkan di rumah Oma Mendas. Oma Tunggul ini cantik dan modis. Dia selalu rapih dan sangat menekankan postur tubuh yang tegak, hidup yang teratur dan pola makan yang baik. Ini sepertinya pengaruh dari disiplin di sekolah Belanda. Oma Tunggul sangat hobi bercocok tanam dan favoritnya ialah anggrek. Saya ingat kebun depan dan samping penuh dengan tanaman anggrek, yang secara berkala disirami vitamin dengan Oma. Oma Tunggul umurnya panjang dan ia meninggal pada usia 85. Ia sempat ketemu dengan Dani, anak saya.

Saya ingat Oma Tunggul senang makan nasi merah, sayur buncis dan kacang merah. Buah-buahan dan vitamin juga selalu disantapnya. Oma tidak mau makan berlebih-lebihan dan kekenyangan. Menjaga kesehatan dan hidup teratur, itulah yang diwariskan Oma ini buat saya. 



Wednesday, February 28, 2018

Gang Mendas, Gang Bhinekka Tunggal Ika



candid style vintage photo di Gang Mendas




ki-ka : Kak Meta Jobah dan baby Nando, Oma dan saya waktu baby, Opung Juli, Tante Noni
ki-ka bawah baby Juli di walker dan Kak Ratna
Saya lagi kepincut dengan foto foto lama dan yang kali ini bahkan 42 tahun umur fotonya ( wah ketahuan deh). Ini adalah foto Oma Mendas ( Menteng Wadas, nama gang tempat tinggal Oma ) dengan para tetangga. Ada Kak Meta Jobah, Oma Mendas yang sedang memangku saya, Opung Juli ( saya nggak tahu namanya, disebut Opung Juli karena cucunya bernama Juli ), dan Tante Noni ( karena anaknya bernama Noni ). Lalu gadis cantik yang duduk di lantai ialah Kak Ratna, anak bungsu Tante Noni. 

Di gang Mendas itu para tetangga sangat dekat. Dekat secara fisik, karena gang Mendas itu kecil jalannya, juga pergaulannya pun dekat. Saya bisa tahu menu makan siang tetangga sebelah, padahal belum ada facebook lho saat itu. 

Kedekatan tentu bisa menimbulkan kekepohan yang berujung gosip. Gosip memang ada namun seingat saya konflik jarang terjadi. Apalagi konflik gara gara agama, tidak terjadi pada masa itu. Yang ada malah saling kirim mengirim atau mencicipi makanan khas hari raya tertentu. 

Mengapa saya sebuat Gang Bhineka Tunggal Ika, karena penghuni gang itu berbeda-beda sukunya. Ada yang Cina  yaitu Oma Mendas ,Tante Reri/Oma Elda, Ci Asiu. Manado yaitu Tante Noni. Batak yaitu Opung Juli, Kak Meta Jobah dan Tante Gloria. Padang yaitu Kak Meta yang ramping, dan ada juga keluarga Jawa di sebelah Tante Noni yang anaknya bernama Nunu dan Anton.

Saya ingat pernah juga terjadi kehebohan di Gang Mendas gara-gara abang tukang jualan yang pingsan ketika lagi dagang. Akibatnya ada yang berteriak minta tolong dan orang-orang pun bergegas keluar rumah, termasuk Oma saya. Ada yang berusaha menyadarkan si abang, ada yang mengambilkan minum, ada yang ribut tanya tanya obat, kasih minyak angin, dan juga ada yang cuma menonton. Semua bernapas lega ketika akhirnya orang itu siuman.  Namun orang -orang memastikan supaya si abang ok sebelum ia pergi bahkan kemungkinan besar si abang diberikan minum dan makan sebelum ia dilepas. 

Ralat dari tante: Yang saya sebut sebagai Tante Noni, ternyata adalah Oma Ingki, kependekan dari Ingkiriwang. 







Tuesday, February 27, 2018

Boneka Beruang Pilihan Saya

Saya dan Michael, adik saya. Sophie tanya kenapa saya nggak senyum.

Sudah 37 tahun usia foto ini, diambil waktu saya berusia 7 tahun dan adik saya 6 tahun. Lokasinya di Mendas, alias Menteng Wadas, di rumah Oma dari pihak mama. Saya tidak terlalu mahir dalam hal arah dan jalan, jadi saya sebutkan berdasarkan pusat keramaian yang ada di sekitarnya ya... Mendas itu di kawasan Jakarta Selatan dekat Manggarai, dekat pasar Minangkabau, dekat pasar Rumput.

Saya ingat, saya disuruh bergaya dengan adik, sambil memegang mainan favorit saya yaitu boneka beruang coklat, hadiah ulang tahun dari Akoh. Akoh adalah panggilan tante yang lebih paling tua dari pihak papa. Akoh saya namanya Julia atau Sjuul, nama panggilannya. Boneka ini sangat spesial buat saya, karena saya diberikan kesempatan untuk mempraktekkan hak memilih saya... hahaha..kayak pemilu aja ya.

Jadi sebelum saya berulang tahun yang ke-7, Oma dan Akoh mengajak saya pergi ke sebuah toko mainan di Pasar Baru. Sampai di sana, Akoh mempersilahkan saya memilih mainan sebagai hadiah ulang tahun saya. Dan saya suka dengan boneka beruang itu. Bonekanya ada pilihan warna cokat dan merah dadu. Saya lebih suka yang coklat, dan itulah yang saya pilih.

Di perjalanan pulang, Oma dan Akoh bertanya nama apa yang mau saya berikan kepada boneka itu. Mereka mengusulkan bagaimana kalau diberikan nama Beertje ( atau beruang kecil dalam bahasa Belanda )? Tapi saya tidak suka dengan nama itu. Saya tidak ingat apakah apakah akhirnya diberi nama atau tidak. Malah yang nempel di kepala saya, sepertinya adalah nama : Si Gendut. Ya memang beruang ini gendut dan cocok dengan nama tersebut. 

Mengapa memilih hadiah sendiri itu sangat berarti buat saya? Entahlah, mungkin jaman saya itu, anak anak jarang diberi kesempatan untuk memilih. Dan terus terang, dulu keluarga kami itu tidak semapan keluarga kakak-kakak papa yang lain, jadi saya dan adik tidak banyak disodorkan pilihan yang berkaitan dengan hal-hal material. Berbeda halnya dalam menetapkan pilihan hobi, kesukaan, jurusan pelajaran dan karier, mama dan papa saya memberikan kebebasan buat saya dan adik saya. Dan tentunya pilihan itu diberikan ketika kami sudah lebih besar.