Sunday, May 4, 2014

GONDRONG DAN RAPIH

Akhir-akhir rambut anak anak sudah mulai gondrong.
Yang sulung, sudah mulai kelihatan seperti landak karena rambutnya jabrik
Yang kedua kelihatan seoerti jerami
Yang ketiga hampir tertutup matanya

Jadi Sabtu ini, saya bawa mereka potong rambut ke salon

Menemukan salon yang cocok di Amerika agak sulit buat saya pribadi
Karena tipe rambut orang Asia berbeda dengan orang bule
Kadang guntingan mereka tidak cocok di kepala saya

Jadi saya harus cari salon yang kapster-nya orang Asia
Beruntunglah saya ketemu yang cocok
walaupun agak jauh dari rumah

Untuk anak-anak, tidak terlalu masalah ,karena mereka masih kecil
Anak tengah, masih mau difoto
setelah digunting..tidak terlalu rapih, tapi sudah mendingan lah, anak pertama sudah rapih, tidak mau difoto
amoy kecil manis

Friday, April 4, 2014

Mau Pamer

Apa gunanya bikin blog kalau bukan untuk pamer ?
Entah pamer soal kehidupan, pengetahuan, kemampuan
kecantikan, keluarga, dll
Sebagai seorang manusia yang normal,
saya pun suka pamer

Enaknya pamer di blog ialah tidak ada paksaan
Kalau pamer pas lagi ngobrol
kan kasihan teman bicara...
Mungkin dia bosan, tapi sungkan untuk memotong

Kalau di blog, jika anda bosan, gampang
it's only one click away

Dengan demikian.. saya mau pamer
kali ini pamer masakan karya sendiri, teman-teman
Soal rasa, bayangkan yg enak aja
Karena menurut beberapa teman,
masakan saya suka kurang garam

oatmeal chocolate chip pecan muffin


tumis bayam, blood orange, quinoa, ayam kecap

vegetarian nugget, rebus brokoli, timun , pasta saus alfredo

bluberry pie yg gagal, garlic bread, spagetti saus daging
spagetti dengan saus ayam kecap dan jamur kuping

Thursday, March 27, 2014

MAIN HAKIM SENDIRI


Tukang main hakim sendiri
Kalau agama dan masyarakat mengijinkan,
saya senang main hakim sendiri.
Orang itu menyebalkan...gampang, tembak aja
Si Anu bikin masalah, mudah, bunuh aja
Tuan X reseh , mari kita gebukin

Jangan kuatir, saya tidak demikian
( saya tidak menulis blog ini dari sel penjara, kok )

Namun dalam kehidupan sehari-hari
mudah buat saya untuk menghakimi
dengan cara yang lebih halus
seperti ngomongin orang lain
nganalisa tindakan dan motivasi orang

Kalo suami saya kebetulan pas lagi hadir ketika saya sedang ngomongin orang
Saya suka ditegur...
Menurut dia tidak ada gunanya,
Lebih baik, saya pakai waktu dan tenaga untuk ngurusin keluarga
daripada ngurusin tingkah polah orang lain

Bijaksana, suami saya.. walaupun jarang ngomong
( soalnya dia lebih banyak main game di komputer )

Kalo dipikir memang betul...
Ngapain sok jago menghakimi orang
Jadi hakim itu tidak gampang
sekolahnya lama, pelatihannya makan waktu
( saya pun kalau mau, rasanya otak tidak mampu )

Demikian juga ,ngapain saya memikirkan motivasi orang lain
Emang saya psikolog ?
Jadi psikolog pun sulit...
Musti sekolah tinggi-tinggi, musti praktek, dll

Namun apa daya, kalo demen menghakimi , gimana yah
Tertekan jiwa-ku....
jika tidak membunuh orang orang reseh
jika tidak ngegosip
Solusi-nya adalah dunia hiburan

Makanya , saya suka dengan film Hannibal Lecter
( hidup Anthony Hopkins )
Dia bisa seenaknya bunuh orang yang menyebalkan
atau yang dia pikir layak dibunuh
And He did it with style !
Mads Mikkelsen, Hannibal-nya serial TV
Saya juga suka film dan novel detektif/ misteri
Tapi kenapa yah , cerita detektif modern,
orang dibunuh untuk memuaskan napsu si pembunuh
( biasanya pembunuhnya rada psycho )

Miss Marple, detektif yang manis
Kalo di novel Agatha Christie
orang dibunuh karena uang,cinta, atau kekuasaan
Dalam novel Tirai, novel terakhir detektif Poirot
ada satu psycho , yang hobinya bikin orang bunuh diri
tentu dengan cara yang halus, alias persuasif

Hobi saya nonton film detektif
ternyata nular juga kepada anak-anak saya
Kita semua suka nonton serial Monk
( Memang cuma suami aja yang bisa menularkan hobi main computer game,
saya juga tidak mau kalah dong... hhehehe)
Detektif favorit keluarga kami, Mr. Monk
Kalo nonton Monk, biasanya anak-anak tutup mata pas ada gambar mayat
Tapi terus terang, saya belum ijinkan mereka untuk nonton Hannibal Lecter
Mungkin kalau sudah 17 tahun, boleh lah...

Jadi.......
saya mau berusaha.. makin hari makin baik
makin tidak ngegosip, makin tidak menghakimi
namun menikmati film/buku detektif
Amin.....

Wednesday, March 12, 2014

Teman Baru di Blog

Waktu saya sedang jalan-jalan di dunia maya ,
singgahlah saya ke salah satu blog yang sangat menarik .
Blog ini milik Dian, alias Aldriana Amir
www.gambarnyaaldriana.blogspot.com.
Dian ini adalah illustrator buku / majalah anak-anak yang bermukim di Jakarta.
Dian, di kanan
Saya pun kirim email sama dia, ajak kenalan...

Ternyata banyak hobinya Dian yang sama dengan saya.
Kita sama-sama suka baca buku cerita anak , ke toko buku , nonton teater.
Jarang saya ketemu orang yang antusias kalo diajak ngobrol tentang buku anak-anak.
Dan illustrasi Dian.. duh saya demen banget deh sama hasil karya dia. Lucu dan imut banget.
Illustrasi kaktus dia, langsung bikin saya napsu untuk menulis.
Kebetulan juga , saya punya tanaman kaktus di depan jendela...

Nanti kalo ke Jakarta, musti kopdar sama Dian nih...

Flamingo illustration by Dian

Dian dan Komunitas Kaktus


Di dalam kamar Dian,  ada sebuah jendela
Di bawah jendela ada meja
Di atas meja, hiduplah beragam pohon kaktus

Walaupun kaktus berduri tajam
kelihatan garang dan seram
tapi kaktus di kamar Dian
suka tersenyum dan berwatak riang
Jika Dian ada di dalam
semua kaktus jadi pendiam
karena tidak enak hati, jika ganggu Mbak Dian
Kalau di kamar tak ada orang
para kaktus mulai bersuara
ada yang ngobrol ngalor ngidul
ada yang cekakak cekikik
ada yang nangis oe oe ( bayi kaktus )
Bila Dian sedang tidur,
semua kaktus bersenandung
menina bobokan Dian
supaya tidurnya nyenyak
dan mimpinya indah...
" Dian bobo... oo.. Dian bobo...kalau tidak bobo..ditusuk kaktus "

teks : Tirsa Tanaraga
illustrasi : Aldriana Amir ( www.gambarnyaaldriana.blogspot.com)

Tuesday, February 25, 2014

Lupus, Hilman dan Astrid Yuni

Kalo saya ngumpul dengan teman-teman Indonesia di sini, ada beberapa bahan pembicaraan yang sering dibahas. Gosip tentang celebrities Indonesia, Jokowi-Ahok, dan jadoel. Teman yang sering menonton "youtube" atau membaca website gaul , akan memberikan update  celeb yg nikah, pacaran atau cerai. Teman yang senang politik bicara tentang duo pejabat yg berani tampil beda dalam kancah pemerintahan. Karena jadoel adalah favorit saya, terus terang saya sering membelokkan alur pembicaraan ke zaman tahun 80 atau 90-an...

Maybe I am an old soul alias kuno deh

Minggu kemaren, entah kenapa kami bicara tentang Lupus.
Bukan Lupus nama penyakit, melainkan novel anak muda populer tahun 80-an.
Kehadiran serial Lupus selalu saya nanti-nantikan..
Seperti anak saya menantikan edisi terbaru Diary of Wimpy kid.

Lupus ini adalah anak remaja Jakarta di tahun 80-an.
Rambutnya gondrong. Dia punya kebiasaan mengunyah permen karet. Lengan kemeja selalu dilinting.
Dia juga punya teman- teman yang lucu, seperti Boim LeBon, Gusur, dll.
Lupus juga punya adik yang bernama Lulu ( kalau nggak salah ).


Pas lagi asyik-asyiknya ngobrol tentang Lupus, tiba-tiba Astrid Yuni, salah seorang teman, nyeletuk kalau dia kenal dekat dengan Hilman Hariwijaya.

Astrid Yuni di tengah
" Hilman itu pendiam tapi orangnya lucu banget, "

Yuni juga kenal dengan Gusur. Ternyata karakter -karakter yang muncul di Lupus, adalah teman-teman Hilman.

" Hilman itu temannya sepupu gue. Kita kenalan, lalu jadi teman dekat, " kata Yuni
" Karena dia suka dengan Freddy Mercury, gue panggil dia Freddy di dalam surat.
Dia panggil gue Olivia, dari Olivia Newton John, "

Waduh.. sampai panggil-panggilan mesra begitu. Wah saya tidak nyangka deh Yuni dan Hilman.. hihihih
Jangan-jangan Yuni sempet jadi muse-nya Hilman . ( Do I start a new gossip, Mbak Yuni ? )

Setelah acara ngumpul-ngumpul usai , kembali terkenang masa lalu di mana saya dan beberapa teman ngejar-ngejar Hilman . Peristiwa ini agak memalukan. Tapi nggak papa deh . Saya mau jujur sama pembaca... Kan ada peribahasa jujur pangkal mujur.

Waktu itu saya kelas 1 atau 2 SMP . Saya, Michael( adik ), Lora, Fanny, dan beberapa teman yang lain
( siapa lagi yang ikut yah.. hayo ngaku ) pergi ke pameran buku IKAPI. Kalau tidak salah lokasinya di Senayan..( kalo salah tolong dimaafkan ... ). Ketika sedang melihat-lihat buku di stan Gramedia, saya disenggol sama Michael.

" Eh ada Lupus tuh, "
" Lupus ? maksudnya Hilman , pengarang Lupus ? " tanya saya

Adik saya menunjukkan seorang pemuda berambut gondrong yg mirip seperti tokoh Lupus.
Saya mulai kena starstruck. 

" Tapi kok agak beda dengan Hilman yang asli yah..? " kata saya sambil mengingat-ingat foto Hilman yang pernah saya lihat di beberapa majalah.


Akhirnya saya dan teman-teman memberanikan diri menhampiri pemuda itu.
Dia senyum-senyum pas ditanya apakah dia Hilman.

" Boleh minta tanda tangannya, Kak, " tanya teman saya

Dia bilang tidak punya bolpen. Adik/ teman /saya bergegas membeli sebuah bolpen dan notebook. Dia pun segera memberikan tanda tangan . Persis seperti tanda tangan Hilman di dalam buku Lupus.

Karena kena demam selebrities, kami terus mengikuti Kak Hilman. Namun dia lalu menghilang. Pas kami celengak celengok cari dia, seorang pegawai Gramedia menghampiri kami.

" Maaf yah, yang tadi itu bukan Hilman, " katanya

Kami bengong . Sedih. Malu. Kesal . Kok bisa-bisanya dia mengaku-ngaku sebagai Hilman.

" Tapi kok, dia kasih tanda tangan, " kata salah seorang dari kami.

Pegawai Gramedia itu pun kembali minta maaf. Lalu pergi meninggalkan kami , anak-anak SMP yang masih terkejut . Terpuruk lebih tepatnya.

Saya ingat, lalu saya mendapatkan satu buku tipis di penerbit Djambatan, buku yang berjudul Pangeran Kecil karangan St. Antoine Exupery. Buku itu, sampai kini, mejadi salah satu buku favorit saya. Beberapa tahun yang lalu, saya kangen buku itu. Saya beli yang versi bahasa Inggris di amazon.com. Mungkin kalau saya pulang Indo nanti, saya akan cari lagi buku Lupus.





Sunday, December 1, 2013

Seorang Turis di Paris

Nov 7-17 kemaren, saya berkesempatan pergi ke Paris.
Oma dan Opa menjaga anak-anak di rumah,
sementara saya pergi menyusul suami yang memang sedang ada gawe di sana. 

Puji Tuhan ... saya sangat bersyukur karena kesempatan seperti ini sangat langka. Agak egois rasanya bisa pergi lenggang kangkung tanpa anak-anak.
Namun kalo sudah dapat kesempatan seperti ini, yah justru harus dimanfaatkan .
Jadilah saya wara wiri di Paris.. kebanyakan sendirian, dua hari ditemani oleh teman lama, kalo weekend sama suami

Tempat-tempat yang saya kunjungi
Tentunya ialah pusat atraksi turis ..seperti 

1. Menengok Jeng Mona di Museum Louvre
Hari pertama mendarat di Paris, setelah tidur siang, saya langsung cabut naik metro ke Louvre. Sendirian saja karena suami masih kerja. Kebetulan hari itu Louvre buka sampai malam. Sempet liat Jeng Mona, tapi seperti biasa aja, tidak terlalu istimewa. Saya malah lebih suka dengan lukisan-lukisannya Vermeer. Ada yang pernah nonton Girl with the Pearl Earring ? 
Piramid pintu masuk 
2. Nyekar makam raja raja Prancis di Katedral St. Denis
Serem juga yah , kok di dalam gereja ada kuburan. Yah itulah Katedral St. Denis.
beautiful stain glass 
Dan pas lihat patungnya Marie Antoinette..
kok agak mirip sama teman kuliahku, Camelia Effendi.
Marie Antoinette 
3. Mampir di Katedral Sacre Coeur sempat hampir dipalak lagi

Karena cinta dengan film Amelie (setting lokasinya banyak di Montmarte, di mana berdiri gereja ini ) , saya jadi pergi dua kali ke Katedral Sacre Coeur . Pemandangannya sangat indah, juga banyak toko souvenir. 
lilin di dalam gereja
Kedua kalinya, saya pergi sendirian, ada cowok tanya saya bisa bahasa inggris nggak. Pas saya kabur, saya langsung dikata-katain . 
Puji Tuhan tidak kecopetan , tidak ada barang yang hilang.
( Copet di Indonesia beroperasi diam-diam, kalo di Paris, mereka akan tanya-tanya apakah kamu bisa bahasa Inggris. Begitu kamu ngobrol dengan dia, teman-temannya akan datang meneghampiri kamu, dan mencopet barang-barang kamu . Thanks untuk temanku , Agustina yang sudah kasih info sama saya. ) 

4. Olahraga elliptical di tangga Katedral Notre Dame


Sungguh tangga Notre Dame itu bisa disebut sebagai the ULTIMATE STAIRMASTER . Saya sampai ngos-ngosan naiknya. Nggak heran daku sampai agak langsing.

saya dengan temannya Quasimodo
untuk sampai ke atas perlu perjuangan
5. Museum Orsay
Gudangnya lukisan2 impresionist.
Malah seneng lihat jam raksasa yg ada
di atap museum ini ( inspirasi film Hugo )


6. Menggigil di depan Museum Orangerie
antre karya Frida dan Diego
Setelah berangin dan kedinginan di luar selama satu jam, saya masuk ke Museum Orangerie . Lihat pameran khusus Frida dan Diego ( gara-gara sudah nonton Frida yg dimainkan oleh Salma Hayek ). Jadi sedih liat lukisan Frida ( mungkin ditambah efek masuk angin ). Juga lihat Waterlili-nya Monet.




7. Lagi lagi olahraga naik tangga di Arc De Triompe



8. Plesir ke Istana Versailles

Karena Versailles letaknya di luar Paris, sudah dinasehatin temen untuk pergi bareng suami aja. Naik metronya membingungkan. Tapi istananya luar biasa glamor. Tak heran rakyat jadi kesel sama raja dan ratunya.


8. Ngalor ngidul di Tuileries
Saya suka banget sama Tuileries. N.H Dini menulis buku yg judulnya Tuileries, tapi saya lupa ceritanya. Ada satu toko buku yg imut banget di sini.

Makan crepes dan minum hot choco, sambil lihat obelisk yg di-import dari Mesir . Juga sempat lihat Eiffel kelap kelip di malam hari. Bling Bling.
9. Berlayar di Sungai Seine
tempat naik kapalnya

dari dalem kapal
Mungkin di masa datang, ada juga kapal untuk turis yang berlayar di kali Malang.